Month: July 2017

Urgensi Pendidikan Multikultural

a) mengatasi kegagalan belajar di sekolah dari siswa dengan aneka ragam budaya Ada dua alasan mengapa pendidikan multikultural memperngaruhi sukses atau gagalnya belajar siswa yang mempunyai keragaman budaya. Salah satu alasannya adalah bahwa pendidikan multikultural umumnya mengabaikan tanggung jawab siswa minoritas atas prestasi akademis mereka. Model pendidikan multikultural dan program aktual menyampaikan kesan bahwa mendidik siswa minoritas adalah sebuah proses dimana guru dan sekolah harus berubah demi keuntungan siswa. Mereka harus memperoleh pengetahuan tentang budaya minoritas dan bahasa untuk mengajar anak-anak minoritas, mempromosikan pemahaman lintas budaya, memperkuat identitas etnis, dan sebagainya. Pendidikan multikultural pada umumnya menekankan perubahan sikap dan praktik guru. Namun, studi perbandingan situasi akan menunjukkan bahwa kesuksesan sekolah tidak hanya bergantung pada apa yang dilakukan oleh guru dan guru, tetapi juga pada apa yang dilakukan siswa[1]. Kedua, teori dan program pendidikan multikultural jarang didasarkan pada studi aktual budaya dan bahasa minoritas. Sepengetahuan kami, banyak pendukung model pendidikan multikultural belum mempelajari budaya minoritas di komunitas minoritas, walaupun beberapa telah mempelajari anak-anak minoritas di sekolah dan beberapa di antaranya adalah anggota kelompok minoritas. Namun, keanggotaan dalam kelompok minoritas bukanlah dasar yang memadai untuk berteori tentang pengaruh budaya terhadap pembelajaran[2]. Perlu dibentuk kelompok-kelompok peneliti dengan harapan adanya barometer yang akan digunakan dalam kepentingan guru atau sekolah dalam hal keberagaman. Dalam skala besar, pemerintah dapat mengundang peneliti untuk dapat melakukan reset dengan tujuan dapat mengklasterkan budaya dan keragaman untuk kepentingan umum,...

Read More

Antara mutu dan pemerataan pendidikan: mana yang lebih penting?

Peningkatan mutu pendidikan/sekolah akan memacu pertumbuhan sekolah. Biaya ekonomi dan sosial kegagalan sekolah dan putus sekolah tinggi, sementara penyelesaian pendidikan menengah yang berhasil (quality) memberi kesempatan kerja yang lebih baik bagi pegawai dan prospek gaya hidup yang lebih sehat sehingga memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap anggaran dan investasi publik termasuk akses Pendidikan, yang nantinya akan mengurangi kesenjangan perolehan Pendidikan. Orang yang lebih berpendirian berkontribusi pada masyarakat yang lebih demokratis dan ekonomi berkelanjutan dan kurang bergantung pada bantuan publik dan kurang rentan terhadap kemerosotan ekonomi. Masyarakat dengan individu yang terampil paling siap untuk menanggapi krisis potensial saat ini dan masa depan. Oleh karena itu, berinvestasi di awal, pendidikan dasar dan menengah untuk semua, dan khususnya untuk anak-anak dari latar belakang yang kurang beruntung, adil dan efisien secara ekonomi[1]. Gambar 1 menunjukkan hubungan positif antara peningkatan kualitas terhadap pemerataan atau perbaikan akses pendidikan. Dengan arti lain, Semaian berkualitas suatu pendidikan/sekolah, maka kesempatan akses pendidikan juga akan meningkat[2]. Gambar 1. Hubungan antara kualitas dan kesempatan mendapatkan Pendidikan (Fabian T. Pfeffer, 2004). [3] Hanya pendidikan berkualitas untuk semua anak menghasilkan keterampilan yang dibutuhkan, mencegah memburuknya ketidaksetaraan dan memberikan masa depan yang sejahtera bagi semua. Bahaya pendidikan yang berkualitas rendah akan menghasilkan lulusan yang rendah skill dan sulit terserap dalam pekerjaan yang sekarang semakin tidak membutuhkan skill yang rendah. Meningkatkan pencapaian kualitas pendidikan siswa dapat mendorong gaya hidup dan partisipasi yang lebih baik...

Read More

Upaya Rejuvenasi Pedagogic sebagai “the art and science of teaching and educating

Kellner, D. (2000) juga mengungkapkan bahwa “Jadi, daripada mengutuk dan menolak teknologi baru keluar dari tangan, kami harus mengkritik penyalahgunaan mereka tetapi juga melihat bagaimana mereka dapat digunakan secara konstruktif untuk tujuan positif.” Namun dalam rangka rejuvenasi (melestarikan/ muda  kembali) pedagogik sebagai the art and science of teaching and educating (seni dan ilmu pengetahuan mengajar dan mendidik) dapat dilakukan dengan revitalisasi tentang pentingnya pedagogic. Karena teknologi tidak dapat menggantikan peran guru terutama perannya dalam mendidik. Begitu juga Shulman (1986) juga telah melihat pentingnya pengetahuan pedagogik bukan hanya sebatas pengetahuan isi. Notonagoro dalam Siswoyo, D. (2013)[1] menyebutkan bahwa upaya  rejuvenasi dalapat likukan dengen prinsisp eklektik-inkorporatif-harmonis-dinamis, yaitu pendekatan menggabungkan eklektik-inkorporatif (pengembangan dan pengayaan Filsafat Pendidikan Nasional) dari berbagai elemen filsafat pendidikan asing yang sesuai dan tidak bertentangan dengan kepribadian nasional, yang dilepaskan dari dasar Sistem Aliran atau Filsafat diperhatikan, harmoni berarti membentuk kekuatan utuh dan dinamis yang menyenangkan sekaligus berarti untuk menghasilkan gerakan yang cepat dan penuh antusias. Proses eklektik-menggabungkan harmoni dilakukan dengan peralihan-antisipatif-reflektif-peremajaan-dialektik sehingga penerapan Filsafat Pendidikan Nasional Pancasila selalu sarat dengan kreativitas baru yang akan menjawab tantangan dari waktu ke waktu.[2] Upaya yang paling esensial adalah dengan melihat kepribadian  bangsa yang merupakan jati diri bangsa Indonesia selalu dinamis, direjuvenasi dengan tetap berpegang pada  nilai-nilai  dasar  Pancasila,  harus  selalu  diperjuangkan  aktualisasinya  dalam  kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Upaya lainnya adalah dari dosen LPTK senantiasa mensosialisasikan tentang pedagogic sebagai seni dan...

Read More

Peran Pedagogik dalam Menghadapi Isu Kemajuan Adab, Budaya, dan Persatuan Bangsa

Peran pedagogik  dapat menjadi penyeimbang antara hal yang baru dan yang lama. Pendapat konservasi bahwa kita hidup harus memegang erat budaya leleuhur. Manusia akan benar-benar menjadi manusia kalau ia hidup dalam budayanya sendiri. Manusia yang seutuhnya antara lain dimengerti sebagai manusia itu sendiri ditambah dengan budaya masyarakat yang melingkupinya[1]. Adapun moderisme atau juga pragmatisme yang mengidolakan teori evolusi[2] (Ornstein, Alan C. & Levine, Daniel U. , 1985), lebih pada pandangan survival sekarang dan menolak fondasi lama seperti idealis, realis dan parenialis. Pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang (menurut Ki Hajar Dewantara menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif)). Singkatnya, “educate the head, the heart, and the hand”. Hyman, dkk (1979)[3] dalam bukunya yang berjudul “Education’s Lasting Influence on Values” menjelaskan hasil  survei  dari tahun 1950 sampai 1975 terhadap 45.000 orang dewasa kulit putih berusia 25 sampai 72 tahun tentang efek jangka panjang dari pendidikan. Data menunjukkan bahwa pendidikan menghasilkan efek baik dan bersifat abadi dalam ranah nilai. Buku ini juga berkomentar mengenai persejajaran antara penelitian ini dan sebuah studi sebelumnya berjudul “The Enduring Effects of Education” yang menyajikan bahwa peran pedagogic terhadap pengetahuan dan nilai begitu kua. Hal ini  dapat diartikan bahwa peran pedagogic sangat besar dalam menanamkan nilai-nilai adab, budaya, dan persatuan di samping pengetahuan. Sebagai contoh adalah terjadinya percepatnya...

Read More
Translate »