Gleseer W. (1992)[1] menuliskan bahwa guru mencoba meninggalkan  sistem  lama “boss-menaging”,  yang  kurang  efektif  untuk  memanage  siswa. Guru bertugas untuk memanage siswa secara langsung, sedangkan guru dimanage  oleh administrator. Hanya melalui “lead-management”, guru dapat membuat ruang kelas di mana semua  siswa  tidak  hanya  melakukan  pekerjaan  yang  kompeten  tetapi  mulai melakukan  pekerjaan  yang  berkualitas,  kelas  yang  seperti  itu  adalah  inti  dari  sebuah sekolah yang berkualitas. Sebagai menager, guru seharusnya bersedia mengeluarkan berbagai usaha untuk memberikan pekerjaan yang tidak membosankan karena  ia  tahu  bahwa  hampir  tidak  mungkin  bagi  pekerja  untuk  bosan  melakukan pekerjaan  yang  berkualitas  tinggi.

Guru yang efektif mengelola siswa tanpa paksaan.

Upaya yang dapat dilakukan supaya semua anak belajar bermutu di sekolah adalah membantu administrator dan guru menerima ide-ide baru mengenai mangemen, salah satunya adalah teori control. Terori ini erat kaitannya dengan motivasi. Perbedaan  penting  antara  boss-manager  dan  lead-manager  adalah  terutama bagaimana mereka memahami motivasi. teori kontrol berpendapat bahwa semua manusia dilahirkan dengan  kebutuhan  dasar  hidup  yang  dibangun  dalam  struktur  genetik  mereka: kelangsungan  hidup,  cinta,  kekuasaan,  kesenangan  dan  kebebasan. Teori kontrol adalah penjelasan dari  usaha  terus-menerus  untuk  mengendalikan  diri  kita  dan  orang  lain,  meskipun dalam praktiknya kita hanya bisa mengendalikan diri kita sendiri. Selain itu faktor gaji sangat menentukan kerja guru. Karena dengan gaji tinggi, pekerjaan lebih profesional dan berkualitas. Selain itu menciptakan budaya yang mendukung belajar. Hal ini disebabkan karena negara dengan dukungan budaya yang kuat lebih membudaya yang mendukung sekolah efektif.

[1] Glasser, W. (1992). The Quality School: Managing Students Without Coercion. (2nd ed.).New York: Harper Perennial – HarperCollins Publishers, Inc.