Richard Pring dalam tulisannya berpendapat bahwa filosofi dipandang penting di dalam melakukan penelitian. Different approaches are used to answer different questionbut behind these different approaches, may also lie fundamental differences of a philosophical kind.. 

Apa yang dimaksudkan Richard Pring “Different approaches are used to answer different question…” bahwa memilih pendekatan suatu penelitian tergantung pada pertanyaan penelitian tersebut. Mengingat penelitian pendidikan merupakan penelitian fenomena yang sangat kompleks, sehingga memerlukan pendekatan-pendekatan yang berbeda dalam penyelesaian masalah-masalah pendidikan yang kompleks. Seorang peneliti pendidikan harus mempunyai wawasan yang beragam untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut demi mencari sebuah yang benar.

Sedangkan yang dimaksud “but behind these different approaches, may also lie fundamental differences of a philosophical kind” bahwa perbedaan pendekatan penelitian dapat terletak dari perbedaan filsafat yang mendasari pendekatan tersebut. Artinya selain tergantung pada pertanyaan penelitian, sebelum memilih pendekatan tertentu, seorang peneliti seharusnya memilih filsafat yang mendasari pertanyaan tersebut. Secara lebih lengkap dalam mendesain penelitian dapat melihat diagram bawang (Onion) oleh Saunders et al (2009)[1]. Hal tersebut dimaksudkan agar dari kulit sampai pada intinya terjadi koherensi dan keefektifan dalam melakukan penelitian.

Pada teori “bawang”, sebelum sampai ke pusat bawang, peneliti harus mengupas kulit bawang. Pada kulit pertama, seorang peneliti harus memilih filsafat yang tepat seperti, positivisme, realisme, interpretivisme, subjektivisme, pragmatisme, dan seterusnya. Tentu saja pemilihan filsafat mana tergantung pada permasalahan penelitiain yang akan diangkat. Selanjutnya pada kulit kedua, peneliti dapat memilih pendekatan yang sesuai dengan pertanyaan penelitian sehingga dapat memilih pendekatan yang tepat apakah mengupasnya melalui bagian deduktif atau induktif, begitu seterusnya sampai pada pengumpulan data dan analisis data.

Pada artikel yang sama (Understanding Research Philophies and Aprroaches) disebutkan “ So far we have conveyed the impression that there are rigid divisions between deduction and induction. This would be misleading. Not only is it perfectly possible to combine deduction and induction within the same piece of research, but also in our experience it is often advantageous to do so” . Jika ditanya mengapa peneliti perlu luwes, tidak mengungul-unggulkan suatu pendekatan, karena baik pendekatan deduktif maupun induktif dapat dikombinasikan meskipun dalam bagian penelitian yang sama.

Dalam memilih suatu pendekatan, kadang kita sebagai peneliti meresa bingung dan mudah untuk jatuh pada perangkap berpikir bahwa satu pendekatan penelitian lebih baik dari pada pendekatan yang lain. Sering juga seorang peneliti mengunggul-unggulkan bahwa penelitian misalnya deduktif lebih baik dari pada induktif. Sebagai contoh, sebagai seorang dosen pendidikan fisika, saya lebih suka mengarahkan mahasiswa untuk mengambil judul penelitian yang arahnya ke pendekatan deduktif, seperti pengaruh metode inquiri terhadap berpikir kritis siswa SMP. Dulu hal ini saya lakukan, karena dengan pendekatan penelitian deduktif penelitian tersebut akan lebih cepat dari pada dengan pendekatan penelitian induktif. Sebenarnya sikap saya terhadap kesukaan pendekatan deduktif tersebut terlalu apriori karena tidak semua penelitian itu selalu mengedepankan kepraktisan. Selain itu penelitian pendidikan fisika dapat pula diarahkan ke pendekatan induktif, seperti Profil Miskonsepsi Siswa SMP Materi Listrik. Jadi, seorang peneliti seharusnya dapat lebih fleksibel dalam memilih pendekatan penelitian.

[1] Saunders, M. Lewis, P., Thornhill. (2009). Research Methods for Business Students, 5th edition. Prentice Hall.