Dataran Kebenaran dalam Penelitian Kebijakan Pendidikan

Teori kebijakan merupakan teori yang mencari alternatif terbaik untuk mengoptimalkan kesejahteraan dan menjaga martabat manusia. Oleh karena itu, teori kebijakan menganut dataran ke tiga yang memanfaatkan dataran pertama (kebenaran subtantif-esensial) dan kedua (kebenaran fungsional produktif). Pada dataran ketiga menganut kebenaran alternative proritas, yaitu membuat telaah tentang alternative terbaik atau jalan terbaik mencapai tujuan atau target atau program tertentu (h. 44). Pada nomen klatur ilmu pendidikan, teori kebijakan sangat tepat karena teori kebijakan menganut filsafat sosial dengan empat kriteria, yaitu (1) Bersifat terbuka, tidak bersifat doctrine (2) equiality by the law following social justice, (3) acuan moral yang memerlukan acuan norma: moral dari Al-Khaliq (h. 44). Penilakan terhadap moral doktrine biasanya diasalah artikan dan diapresiasi kebebasan indivdu dalam mengkonstruk moralitasnya. (more…)

Antara boss-management dan Leader-management : Tinjauan Pendidikan

Gleseer W. (1992)[1] menuliskan bahwa guru mencoba meninggalkan  sistem  lama “boss-menaging”,  yang  kurang  efektif  untuk  memanage  siswa. Guru bertugas untuk memanage siswa secara langsung, sedangkan guru dimanage  oleh administrator. Hanya melalui “lead-management”, guru dapat membuat ruang kelas di mana semua  siswa  tidak  hanya  melakukan  pekerjaan  yang  kompeten  tetapi  mulai melakukan  pekerjaan  yang  berkualitas,  kelas  yang  seperti  itu  adalah  inti  dari  sebuah sekolah yang berkualitas. Sebagai menager, guru seharusnya bersedia mengeluarkan berbagai usaha untuk memberikan pekerjaan yang tidak membosankan karena  ia  tahu  bahwa  hampir  tidak  mungkin  bagi  pekerja  untuk  bosan  melakukan pekerjaan  yang  berkualitas  tinggi.

Guru yang efektif mengelola siswa tanpa paksaan.

Upaya yang dapat dilakukan supaya semua anak belajar bermutu di sekolah adalah membantu administrator dan guru menerima ide-ide baru mengenai mangemen, salah satunya adalah teori control. Terori ini erat kaitannya dengan motivasi. Perbedaan  penting  antara  boss-manager  dan  lead-manager  adalah  terutama bagaimana mereka memahami motivasi. teori kontrol berpendapat bahwa semua manusia dilahirkan dengan  kebutuhan  dasar  hidup  yang  dibangun  dalam  struktur  genetik  mereka: kelangsungan  hidup,  cinta,  kekuasaan,  kesenangan  dan  kebebasan. Teori kontrol adalah penjelasan dari  usaha  terus-menerus  untuk  mengendalikan  diri  kita  dan  orang  lain,  meskipun dalam praktiknya kita hanya bisa mengendalikan diri kita sendiri. Selain itu faktor gaji sangat menentukan kerja guru. Karena dengan gaji tinggi, pekerjaan lebih profesional dan berkualitas. Selain itu menciptakan budaya yang mendukung belajar. Hal ini disebabkan karena negara dengan dukungan budaya yang kuat lebih membudaya yang mendukung sekolah efektif.

[1] Glasser, W. (1992). The Quality School: Managing Students Without Coercion. (2nd ed.).New York: Harper Perennial – HarperCollins Publishers, Inc.

Peran pedagogi dalam menyeimbangkan budaya asli dan asing

Informasi yang diakses di media masa telah membawa pada berbagai budaya baru pada generasi Indonesia. Banyak kehawatiran akan demoralisasi terhadap pengaruh budaya asing. Namun, budaya asing tidak sepenuhnya harus ditinggalkan, karena itu sebagai generasi penerus bangsa, perlu menjaga kelestarian bangsa tetapi juga tidak ketinggalan dengan berbagai modernitas. Ki Hajar Dewantara pernah menyatakan bahwa usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya, dan persatuan bangsa, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing, yang dapat memperkembang dan memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.

Peran pedagogik  dapat menjadi penyeimbang antara hal yang baru dan yang lama. Pendapat konservasi bahwa kita hidup harus memegang erat budaya leleuhur. Manusia akan benar-benar menjadi manusia kalau ia hidup dalam budayanya sendiri. Manusia yang seutuhnya antara lain dimengerti sebagai manusia itu sendiri ditambah dengan budaya masyarakat yang melingkupinya[1]. Adapun moderisme atau juga pragmatisme yang mengidolakan teori evolusi[2] (Ornstein, Alan C. & Levine, Daniel U. , 1985), lebih pada pandangan survival sekarang dan menolak fondasi lama seperti idealis, realis dan parenialis. Pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang (menurut Ki Hajar Dewantara menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif)). Singkatnya, “educate the head, the heart, and the hand”.

Hyman, dkk (1979)[3] dalam bukunya yang berjudul “Education’s Lasting Influence on Values” menjelaskan hasil  survei  dari tahun 1950 sampai 1975 terhadap 45.000 orang dewasa kulit putih berusia 25 sampai 72 tahun tentang efek jangka panjang dari pendidikan. Data menunjukkan bahwa pendidikan menghasilkan efek baik dan bersifat abadi dalam ranah nilai. Buku ini juga berkomentar mengenai persejajaran antara penelitian ini dan sebuah studi sebelumnya berjudul “The Enduring Effects of Education” yang menyajikan bahwa peran pedagogic terhadap pengetahuan dan nilai begitu kua. Hal ini  dapat diartikan bahwa peran pedagogic sangat besar dalam menanamkan nilai-nilai adab, budaya, dan persatuan di samping pengetahuan. Sebagai contoh adalah terjadinya percepatnya perubahan ICT yang membawa difusi budaya dan informasi yang cepat dari luar ke dalam, peran pedagogic dapat dianggap sebagai filter yang dapat diandalkan jika direncanakan dan dilaksanakan dengan baik. Hal ini disebabkan karena pedagogic mengajarkan perilaku yang tepat dan tidak tepat, peran gender, nilai-nilai, dan pengetahuan tentang dunia (Kellner, D. dalam Trifornas, P.P, 2000)[4].

[1] Riyanto, Theo. (2004). Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan. [online : 14 Juni 2017] http://bruderfic.or.id/h-59/pemikiran-ki-hajar-dewantara-tentang-pendidikan.html

[2] Ornstein, Alan C. & Levine, Daniel U. . (1985). An Introduction to The Foundations of Education. Boston: Houghton Mifftri Company.

[3] Hyman, Herbert H.; Wright, Charles R. (1979). Education’s Lasting Influence on Values. Chicago: University of Chicago Press

[4] Trifornas, P.P. (2000). Revolutionary Pedagogies Cultural Politics, Instituting Education, and the Discourse of Theory. New York: Routledge

Pancasila di zaman informasi yang kontruktif sekaligus destruktif:

Informasi, Komuniakasi dan Teknologi (ICT) memang tidak bisa kita lepaskan dari zaman informasi sekarang ini. Meskipun sebagian orang mengatakan bahwa ICT dapat merusak tatanan nilai, namun disisi lain teknologi telah membawa percepatan informasi, akselerasi mutu, dan alat untuk memudahkan komunikasi. Bagaimanapun teknologi telah merubah cara kita berpikir, cara untuk melakukan sesuatu, dan cara menggunakan waktu luang.  Kellner, D. (2000) mengungkapkan bahwa “Jadi, daripada mengutuk dan menolak teknologi baru supaya tidak digunakan, lebih baik mengkritik dalam penyalahgunaan mereka dan juga melihat bagaimana teknologi baru dapat digunakan secara konstruktif untuk tujuan positif.”

Baru-baru ini isu tentang kelompok anti Pancasila berkembang dimasyarakat kita. Dikatakan bahwa sistem yang ditawarkan lebih baik dari pada falsafah Pancasila. Hal inilah yang menyebabkan pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Kejadian seperti ini, tentu saja bukan hanya berkembang dengan sendirinya. ICT pun kut turut menymbang penyebaran faham-faham anti Pancasila.

Bagaimana pendidikan memandangnya?

Informasi dapat saja menyusup ke dalam pemikiran mendalam pengguna ICT. Hal ini sangat menungkinkan dapat berbenturan dengan nilai-nilai kerpibadian bangsa seperti filsafat pancasila. Namun dalam rangka untuk memastikan teknologi digunakan secara konstruktif, perlu adanya rejuvenasi (melestarikan/ muda  kembali) pedagogik sebagai the art and science of teaching and educating (seni dan ilmu pengetahuan mengajar dan mendidik). Hal ini dilakukan dengan revitalisasi tentang pentingnya pedagogik. Karena teknologi tidak dapat menggantikan peran guru terutama perannya dalam mendidik. Begitu juga Shulman (1986) juga telah melihat pentingnya pengetahuan pedagogik bukan hanya sebatas pengetahuan isi.

Lalu bagaimana peran Pancasila?

Sangat penting bagi bangsa kita untuk membungkus pedagogik dengan landasan filosofis Pancasila. Tiap sila Pancasila harusnya menjadi ruh dari tingkat pendidikan nasional sampai pada tingkat praktis di kelas. Hal itu dapat diturunkan dari filosofi nasional sampai pada praktis[1]. Harapannya nilai-nilai Pancasila menjadi sebuah rangkaian tujuan dari setiap tujuan pendidikan yang bersifat dialektik. Artinya mendialogkan antara nilai-nilai yang dianggap baik dengan nilai-nilai Pancasila.

Notonagoro dalam Siswoyo, D. (2013)[2] menyebutkan bahwa upaya rejuvenasi dapat dilakukan dengen prinsisp eklektik-inkorporatif-harmonis-dinamis pada landasan pendidikan berbasis falsafah Pancasila. Arti dari  yaitu pendekatan menggabungkan eklektik-inkorporatif adalah mengembangkan pengayaan Filsafat Pendidikan Nasional Pancasila dari berbagai elemen filsafat pendidikan asing yang sesuai dan tidak bertentangan dengan kepribadian nasional, yang dengan dilepaskannya filsafat pendidikan asing dari dasar Sistem Aliran atau Filsafat yang mengikatnya kemudian dilakukan adaptasi dengan nilai-nilai kepribadian nasional. Harmonis berarti membentuk kekuatan utuh, sedangkan dinamis artinya dengan menyenangkan sekaligus berarti untuk menghasilkan gerakan yang cepat dan penuh antusias. Proses eklektik-menggabungkan harmoni dilakukan dengan peralihan-antisipatif-reflektif-peremajaan-dialektik sehingga penerapan Filsafat Pendidikan Nasional Pancasila selalu sarat dengan kreativitas baru yang akan menjawab tantangan dari waktu ke waktu.[3]. Akan tetapi perlu diingat bahwa upaya rejuvenasi hanya sebatas menambah, filsafat yang paling utama adalah Pancasila .

Sumber:

[1] Siswoyo, D. (2012). Urgensi, Tereduksi, dan Rejuvenasi Pendidikan Nasional dalam Membangun Jati Diri Bangsa. Prosiding Kongres Pendidikan, Pengajaran, & Kebudayaan. Yogyakarta:UGM

[2] Siswoyo, D. (2013). Philosophy of Education in Indonesia: Theory and Thoughts of Institutionalized State (PANCASILA). Asia Social Science. Canadian Centerof Science and Education. http://dx.doi.org/10.5539/ass.v9n12p136

[3] ibid

Peran Pedagogik dalam Menghadapi Isu Kemajuan Adab, Budaya, dan Persatuan Bangsa

Peran pedagogik  dapat menjadi penyeimbang antara hal yang baru dan yang lama. Pendapat konservasi bahwa kita hidup harus memegang erat budaya leleuhur. Manusia akan benar-benar menjadi manusia kalau ia hidup dalam budayanya sendiri. Manusia yang seutuhnya antara lain dimengerti sebagai manusia itu sendiri ditambah dengan budaya masyarakat yang melingkupinya[1]. Adapun moderisme atau juga pragmatisme yang mengidolakan teori evolusi[2] (Ornstein, Alan C. & Levine, Daniel U. , 1985), lebih pada pandangan survival sekarang dan menolak fondasi lama seperti idealis, realis dan parenialis. Pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang (menurut Ki Hajar Dewantara menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif)). Singkatnya, “educate the head, the heart, and the hand”.

Hyman, dkk (1979)[3] dalam bukunya yang berjudul “Education’s Lasting Influence on Values” menjelaskan hasil  survei  dari tahun 1950 sampai 1975 terhadap 45.000 orang dewasa kulit putih berusia 25 sampai 72 tahun tentang efek jangka panjang dari pendidikan. Data menunjukkan bahwa pendidikan menghasilkan efek baik dan bersifat abadi dalam ranah nilai. Buku ini juga berkomentar mengenai persejajaran antara penelitian ini dan sebuah studi sebelumnya berjudul “The Enduring Effects of Education” yang menyajikan bahwa peran pedagogic terhadap pengetahuan dan nilai begitu kua. Hal ini  dapat diartikan bahwa peran pedagogic sangat besar dalam menanamkan nilai-nilai adab, budaya, dan persatuan di samping pengetahuan. Sebagai contoh adalah terjadinya percepatnya perubahan ICT yang membawa difusi budaya dan informasi yang cepat dari luar ke dalam, peran pedagogic dapat dianggap sebagai filter yang dapat diandalkan jika direncanakan dan dilaksanakan dengan baik. Hal ini disebabkan karena pedagogic mengajarkan perilaku yang tepat dan tidak tepat, peran gender, nilai-nilai, dan pengetahuan tentang dunia (Kellner, D. 2000)[4].

Sumber:

[1] Riyanto, Theo. (2004). Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan. [online : 14 Juni 2017] http://bruderfic.or.id/h-59/pemikiran-ki-hajar-dewantara-tentang-pendidikan.html

[2] Ornstein, Alan C. & Levine, Daniel U. . (1985). An Introduction to The Foundations of Education. Boston: Houghton Mifftri Company.

[3] Hyman, Herbert H.; Wright, Charles R. (1979). Education’s Lasting Influence on Values. Chicago: University of Chicago Press

[4] Trifornas, P.P. (2000). Revolutionary Pedagogies Cultural Politics, Instituting Education, and the Discourse of Theory. New York: Routledge

Personal Philosophy in Education

Personal Philosophy in Education

Oleh : M. Anas Thohir ,

Pendahuluan

Sebelum menguraikan sedikit coretan saya, tentang filosofi pribadi saya dalam pendidikan. Saya ingin mengungkapkan pendapat saya ilmu. Saya mengangap bahwa ilmu itu datangnya dari Allah SWT baik langsung atau melalui perantara (tawasul) dari apapun atau siapapun (qodo’) dan ilmu akan diberikan kepada orang yang bersungguh-sungguh dalam belajar (qodar). Kerana itu Allah berfirman

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

Katakanlah (wahai Muhammad),Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Rabbku habis (ditulis), meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). [al-Kahfi/18:109]

Jadi saya lebih menganut As’ariyah dari pada condong ke jabariyah (eksrim kanan) ataupun ke qodariayah (ekstrim kiri).  Ada nasihat dari guru saya tentang mendidik yang mengandung unsur qodo’ dan qodar.

Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang Penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah.”( Nasehat KH. Maimun Zubair).

 

 Metafisika

Pada filsafat pendidikan, metafisika berhubungan dengan konsep realitas yang dapat ditinjau dari subjek, pengalaman, dan keterampilan pada kurikulum (Ornstein, Alan C. & Levine, Daniel U. , 1985).  Menurut saya subjek kebenaran memang apa yang dapat kita indra dan kita pikirkan atau dapat saya katakan dibalik yang nampak tersimpan misteri hikmah. Sebagai contoh sebuah meja dapat dikatakan meja jika meja yang dilihat sama dengan konsep meja yang ada dalam pikiran.  Jika kita melihat segi mepat yang punya kaki empat tetapi kita tidak punya konsep meja, maka kita tidak akan dapat mengatakan itu meja. Nah sekarang pada konsep tuhan apa dapat dilakukan dengan metode realis dan idealis? Tuhan menurut kaum idealis disebut juga universal mind, tetapi secara realis memang tidak disebutkan, karena menurut kaum realis kebenaran harus dapat diindra. Meskipun demikian dengan dengan melihat ciptaan tuhan (realis), kemudian kita bawa kepada konsep tuhan dalam pikiran akan lebih memantapkan iman kita. Menurut saya itu Tuhan telah meniupkan potensi-potensi anak dalam kandungan, sehingga kita dapat memberi nama-nama benda, berdasarkan hadist

قال النبى صلى الله عليه وسلم: كل مولود يولد على فطرة الإسلام، إلا أن أبواه يهودانه وينصرانه ويمجسانه. الحديث

Nabi SAW bersabda : Semua bayi itu dilahirkan dalam keadaan kesucian islam, hanya kedua orang tuanyalah yang membuatnya jadi yahudi, nasrani, atau majusi.

Yang berarti suci di sini adalah belum membawa dosa, bukan tanpa potensi seperti konsepnya John Locke tentang tabula rasa.

Meskipun pandangan metafisika yang saya pikirkan ini dekat dengan esensialis, namun saya tidak menolak pembaharuan untuk perbaikan berikutnya. Dalam urusan pendidikan sebagai agen pelestari budaya, kita tidak serta mesta mengikuti pragmatis, yang menganggap interaksi antara individu dengan alam selalu berubah. Meskipun ada perubahan tetapi ada upaya-upaya melestarikan kebudayaan yang baik. Saya lebih suka kata bijak

 خذ ما صفي ودع ما كدر

“ambil yang baik dan tinggalkan yang jelek” dari pada tinggalkan semua yang kuno atau yang bersifat tradisional (parenialism). Meskipun demikian kita tetap melakukan riset kuantitif pendidikan untuk pembahuruan yang lebih baik.

Dalam kebijakan kurikulum, lebih kepada pemberian mata pelajaran dasar yang mantap pada kelas-kelas awal. Mata pelajaran dasar sebagai prasyarat untuk menuju mata pelajaran yang lebih particular atau lebih spesifik. Mata pelajaran dasar antara lain agaman, bahasa, matematika, IPS, dan IPA. Sedangkan mate pelajaran particular seperti material, mikrobiologi, ekonomi makro dll.

Epsitemologi

Pandangan pengetahuan atau epistemologi berhubungan dengan metode mengajar (Ornstein, Alan C. & Levine, Daniel U. , 1985). Pada metode mengajar yang lebih cenderung pada pengajaran tradisional tetapi juga menganut pragmatism. Bagaimanapun metode mengajar pasti ada peran guru, artinya guru sebagai organisator sehingga perannya seperti pada aliran idealis sangat diperlukan. Disisi lain demokrasi dalam pembelajaran juga perlu ditegakkan sepeti yang ada pada pragmatis. Pada langkah pembelajaran diawali dengan metode tradisional ala idealis, selanjutnya pada kegiatan inti memberikan kesempatan siswa untuk belajar otonom dan penegakkan demokrasi pendidikan serta sedikit pada aliran realis, dan kegiatan penutup dilakukan dengan ala aliran idealis.

Oleh karena anak telah diberikan potensi sejak lahir, tugas guru selanjutnya adalah menggalih potensi-potensi tersebut melalui pengalaman-pengalaman langsung yang dapat membangkitkan ide atau kreativitas serta dilatih keterampilan analisis seperti layaknya aliran filsafat analisis. Melalui kegiatan yang lebih banyak menganut realism akan memunculkan ide-ide yang nantinya dapat digunakan sebagai bekal dalam mencari jati diri siswa seperti pada aliran existensialism.

Guru tetap harus memiliki kharisma yang diperoleh dari perilaku-perilaku yang baik. Hal tersebut akan menjadikan si guru menjadi suritauladan yang baik bagi siswa yang diajar. Kepatuhan terhadap guru bukan berarti murid tidak dapat membantah, tetapi lebih pada sopan santun dan etika dalam diskusi atau dalam pembelajaran.

Aksiologi

Seperti yang kita tahu bahwa aksiologi berhubungan dengan nilai, yang diturunkan menajadi etika dan estetika. Etika dalam pendidikan menjadi penting, sehingga menurut saya etika harus didahulukan dari pada pengetahuan. Anak yang rajin akan lebih cepat mengerti dari pada anak yang malas. Karena anak rajin akan mendapat porsi belajar yang cukup lama. Begitu pula anak yang patuh, disiplin, jujur, dan penuh tanggung jawab akan lebih cepat memperoleh pengetahuan yang lebih.

Coba sekarang dibalik, anak yang memiliki moral yang tidak sopan mungkin akan banyak belajar dari akibat yang ditimbulkannya. Memang kedawasaan akan lebih cepat diperoleh oleh anak yang mencoba yang lebih ekstrim. Sebagai contoh seorang anak yang mencuri kemudian ketahuan, akan dapat pengalaman dari perlakuan kasar dari orang dewasa. Dia secara tidak langsung akan mengetahui karakter orang dewasa. Dari sinilah si anak akan cepat tumbuh dewasa. Kedewasaan yang saya maksud disini belajar dari orang dewasa. Namun kedewasaan yang dini juga akan mengakibatkan akan memperlambat perkembangan pengetahuanya ketika dewasa. Hal ini tidak baik untuk orang yang telah dewasa bukanlah bentuk belajar, tetapi lebih dikarenakan karakter yang tidak baik merupakan sifat internal dalam diri yang sudah tidak baik.

Oleh karena itu, sebagai seorang guru, sejak dini ditanamkan sikap dari pada pengetahuan. Dengan sikap yang baik akan berdampak baik ketika mereka dewasa. Untuk membuat baik seorang siswa, seorang guru harus terlebih dulu mempunyai sikap yang baik. Bukan hanya sekedar memberikan contoh, akan tetapi karena kebaikkan guru tersebut telah tertanam dari dirinya. Bukan tuntutan profesi, tapi tuntan sifat baik harus dimiliki oleh setiap orang.

 

—Wallauhua’lam Bishawab—

Daftar Putaka

Ornstein, Alan C. & Levine, Daniel U. , 1985. An Introduction to The Foundations of Education. Boston: Houghton Mifftri Company.

Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama, Semarang: Toha Putera, 1989;

Al-Zarnuji, 1986. Kitâb Ta‘lîm al-Muta‘allim Tarîqah al-Ta‘allum. In: Kairo: Maktabah al-Nahdah al.

Penulis : M. Anas Thohir

Makalah ini ditulis pada saat menjadi mahasiswa pascasarjana program s3 studi ilmu pendidikan.

Translate »