Category: Filsafat

Filsafat Pendidikan Parenialisme

Berkenaan dengan metafisika, Perennialist menyatakan karakter intelektual dan spiritual alam semesta dan tempat manusia di dalamnya. Mengikuti pemikiran Aristoteles bahwa manusia adalah makhluk yang rasional, perennialis memikirkan sekolah sebagai institusi sosial yang dirancang khusus untuk menyesuaikan perkembangan karakter intelektual atau kognitif manusia, Nama “Perennialisme” berasal dari pernyataan bahwa prinsip dasar pendidikan tidak berubah dan berulang. Dalam konteks perennialist, masalah pertama filsuf pendidikan adalah untuk memeriksa sifat manusia dan merancang sebuah program pendidikan yang didasarkan pada karakterisme universal. Kecerdasan manusia memungkinkannya membingkai proposisi alternatif dan memilih yang memenuhi persyaratan kodrat manusianya. Karena dia bisa membingkai dan memilih antara alternatif rasional,...

Read More

Pragmatis John Dewey

John Dewey menempati urutan teratas di kalangan filsuf Amerika yang peduli dengan masalah teori pendidikan. Eksperimen eksperimental pragmatisnya memberi sumbangan teoretis dalam berbagai pengalaman di daerah perbatasan Amerika yang ditandai oleh perpindahan populasi yang bermigrasi ke barat melalui beberapa rentetan lingkungan yang berbeda-beda. Dalam penjelasan mengenai pengalaman di perbatasan, orang Amerika datang untuk mengukur keberhasilan dalam hal konsekuensi yang diakibatkan dari memanfaatkan lingkungan untuk tujuan hidup manusia. Keterbukaan di perbatasan yang sangat mudah diterjemahkan ke dalam sebuah visi semesta terbuka yang lebih luas, yang dituntut oleh dinamika perubahan, dan pergerakan konstan. Eksperimentalisme pragmatika Dewey dengan berani menegaskan kecenderungan Amerika...

Read More

Aliran Realisme Pendidikan

Meskipun ada berbagai aliran filsafat realistik, seperti realisme ilmiah, realisme klasik, realisme alam, dan realisme teistik, benang dasar tertentu dijalankan melalui berbagai posisi ini. John wild menggambarkan posisi realis pada saat menulis: Akal sehat kita mengatakan kepada kita bahwa, pertama kita hidup di dunia yang terdiri banyak hal yang menjadi apa adanya, terlepas dari pendapat dan keinginan manusia; kedua, bahwa dengan menggunakan akal kita bisa mengetahui sesuatu. Ketiga, panduan seperti itu adalah hal teraman untuk tindakan manusia. Keyakinan dasar umat manusia ini juga merupakan tiga doktrin dasar flsafat realistik: (1) Ada dunia eksistensi nyata yang belum diciptakan atau dibangun...

Read More

Metode Pestalozzi

Pestalozzi tidak pernah menghasilkan gambaran teori pendidikan secara komprehensif. Meskipun demikian, ide-ide tertentu akan selalu muncul dalam karyanya. Oleh karena itu dimungkinkan untuk berbicara tentang prinsip-prinsip umum yang dijadikan landasan oleh Pestalozzi dalam teori dan praktek pendidikan. Dalam “How Gertude teaches her Children” Pestalozzi menjelaskan bagaimana ia telah merubah pandangannya terhadap temannya  tanpa bisa menyimpulkan tujuan utamanya ketika tiba-tiba temannya berseru: “Anda ingin memekanisasi pendidikan”. Pestalozzi telah menemukan deskripsi yang tepat, tetapi, seperti semua definisi yang disederhanakan, harus diinterpretasikan dengan benar. Jika temannya berkata kepada Pestalozzi: “Anda ingin memanusiakan pendidikan”, maka definisinya telah sama-sama valid. Garis besar prinsip-prinsip umum...

Read More

Dataran Kebenaran dalam Penelitian Kebijakan Pendidikan

Teori kebijakan merupakan teori yang mencari alternatif terbaik untuk mengoptimalkan kesejahteraan dan menjaga martabat manusia. Oleh karena itu, teori kebijakan menganut dataran ke tiga yang memanfaatkan dataran pertama (kebenaran subtantif-esensial) dan kedua (kebenaran fungsional produktif). Pada dataran ketiga menganut kebenaran alternative proritas, yaitu membuat telaah tentang alternative terbaik atau jalan terbaik mencapai tujuan atau target atau program tertentu (h. 44). Pada nomen klatur ilmu pendidikan, teori kebijakan sangat tepat karena teori kebijakan menganut filsafat sosial dengan empat kriteria, yaitu (1) Bersifat terbuka, tidak bersifat doctrine (2) equiality by the law following social justice, (3) acuan moral yang memerlukan acuan...

Read More
Translate »