Kebenaran dari Kebijakan dalam Teori Sosial Pendidikan

Chasles Lemmert membangun teori sosia menjadi lima era:

  1. Teori modern klasik (73)

Era modern klasik ini mengunakan data untuk dimaknai, diantara tokoh-tokohnya Karl Mx, Friederich Enges, Emile Durkheim, Max Weber, Sigmund Freud dan Ferdinand de Saussure.

  1. Teori modern fungsional

Era modern fungsional menggunakan data untuk membuat pemaknaan fungsional. Tokoh-tokoh teori ini adalah George Lukacs, Talcot Parsons, Karl Mannheim dan lain-lain.

  1. Teori phenomenologik interpretif

Era moderitas phenomenologik interpretif membuat pemaknaan interpretative  tokoh-tokoh, bukan sekedar data. Tokoh-tokohnya adalah George Kennan, Daniel Bell, dan lain-lain.

(more…)

Kebijakan pembangunan pendidikan yang berbeda pada negara-negara dengan tingkat kemajuan ekonomi dan teknologi yang berbeda

Perbedaan rekomendasi pembangunan pendidikan pada negara dengan tingkat kemajuan ekonomi dan teknologi yang berbeda adalah karena perbedaan kondisi latar belakang yang berbeda. Dengan melihat tren yang terjadi pada negara dengan tingkat ekonimi yang berbeda dan juga perubahan yang terjadi pada masa depan, dapat diperoleh prediksi yang akan menghasilkan rekomendasi pada negara sesuai dengan tingkat kemajuan ekonomi dan teknologi. Dalam laporan analisis education commission yang berjudul “Learning Generation” dijelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi lebih dipengaruhi sumber daya manusia dari pada sumber daya alam. Sementara itu pada tahun 2030 diperkirakan setengah dari seluruh pekerjaan akan hilang digantikan dengan teknologi. Analisis historis menyatakan bahwa ketidaksetaraan memicu keresahan dan ketika ketidaksetaraan pendidikan berlipat ganda, probabilitas konflik lebih dari dua kali lipat. Oleh karena itu  education commission merekomendasikan dengan 12 rekomendasi yang berbeda untuk negara dengan tingkat kemajuan ekonomi dan teknologi yang berbeda.

Sebagai contoh negara berpenghasilan rendah akan membutuhkan dua kali lebih banyak guru pada tahun 2030 dari pada negara berpenghasilan tinggi.  Oleh karena itu education commission merekomendasikan untuk berinvestasi peningkatan kualitas guru dengan mengadakan pelatihan, perekrutan guru yang cukup, gaji yang layak dan juga kesempatan untuk melihat-lihat tenaga kerja kependidikan dan bagaimana guru mengajar. Seliain itu juga diadakan asisten pedagogik, praktisi kesehatan, psikolog, dan dukungan administratif untuk memungkinkan guru memanfaatkan keterampilan mengajar mereka secara maksimal. Sementara itu bagi negara dengan berpenghasilan tinggi, kebanyakan yang direkomendasikan telah dilakukan.

Analisis internal dan eksternal pendidikan dalam menjelaskan perbedaan keberhasilan pendidikan antara siswa-siswa dari berbagai latarbelakang sosiokultural

Analisis internal dilakukan dengan mengidentifikasi berbagai data internal di dalam negeri. Data tersebut dapat berupa data geografis, suku, bahasa, ras, distribusi dan komposisi penduduk, data-data antropologi, dan data ekonomi. Data tersebut kemudian dikelompokkan berdasarkan kriteri-kriteria terntu, misalnya dari kesamaan bahasa, kesamaan antropologisnya meskipun berbeda pulau, kesamaan asalnya meskipun tinggal di daerah lain. Hasil pengelompokkan ini nantinya akan dijadikan sebagai latar belakang katakteristik siswa. Pekerjaan ini tentu saja bukan hal yang muda, sehingga pengambul kebijakan perlum melibatkan banyak tenaga dan juga peneliti dari berbagai multidisiplin seperti ahli sejara, antropolog, ahli pendidikan.

Selain data internal dalam negeri, dibutuhkan data eksternal. Data ekternal dicari berdasarkan jenis pengelompokkan yang telah dibuat pada hasil analisis internal. Kemudian menganalisisnya dengan cara membandingkan antara data internal dan eksternal. Apabila memungkinkan dicari letak kesamaan dan tetidak samaan antara internal dan eksternal.

Untuk melakukan komparatif tidaklah mudah, perlu berbgai macam disiplin ilmu, disiplin metode, teori, konteks, dan praktik. Metode bisa berbagai macam, seperti metode Juxtaposition Bereday (1969) dengan enam tahap, yaitu konseptualisasi, konseptualisasi dengan membandingkan dua negara dengan sejaraj, isolasi, eksplorasi, rekonseptualisasi, dan aplikasi.David Phillips & Kimberly Ochs (2013)  juga mengusulkan proses borrowing dengan empat tahap, yaitu cross national attraction, decision, implementation, dan internalization seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 2.

Penjajahan Belanda, Inggris, dan Perancis serta Pengaruhnya terhadap Pendidikan di Indonesia

Negara Indonesia dijajah pemerintah Belanda cukup lama sekitar 3,5 abad. Tentu saja penjajahan Belanda yang lama tersebut memberikan dampak yang lebih besar terhadap pendidikan dari pada penjajah Inggris dan Prancis yang cuma sebentar. Meskipun demikian, yang namanya penjajahan tetap memberikan sejarah buruk bagi perkembangan peradaban selanjutnya. Belanda menerapkan upah yang kecil bagi pribumi bahkan tidak dibayar. Akibatnya rakyat pribumi mengalami kemiskinan dan kelaparan. Dengan kemiskinan ini rakyat pribumi menjadi sulit dalam memperoleh pangan dan pendidikan. Kebodohan dibiarkan oleh Belanda karena Belanda takut atas pemberontakan pribumi. Selain itu politik adu domba (devide  it  impera) membuat fragmentasi dalam ras, kasta, serta strata.

Belanda yang merupakan penjajah yang eksploratif menjadikan pribumi hanya dijadika sebagai sumber bahan mentah bagi pemerintah Belanda. Belanda menjadikan pribumi sebagai pekerja kasar melalui sistem tanam paksa. Bahan-bahan mentah di bawah ke belanda. Setelah kekalahan dengan Perancis dan Inggris, Belanda lewat C.Th. van Deventer merasa sangat tidak adil, bila Belanda hanya mengeksploitasi alam. Belanda merasa bersalah atas eksploitasi alam ini, sehingga oleh van Deventer mengagas politis balas budi. Politik etis ini kemudian dikenal dengan trilogi van Deventer. Trilogi van Deventer mencakup tiga politik yaitu migrasi, irigasi, dan pendidikan. Dalam politik pendidikan ini, Belanda tidak menerapkan demokrasi di dalam pendidikan. Setiap orang tidak mendapatkan kesempatan yang sama. Belanda mendekotomi antara golongan bawah, golongan menengah, dan golongan atas. Golongan bawah diperuntukkan rakyat jelata, pendidikan menengah diperuntukkan golongan bangsa Eropa dan bangsa Timur seperti China, dan golongan atas yang disederajatkan dengan Belanda. Namun Kesempatan untuk mengenyam pendidikan untuk orang pribumi hanya diperuntukkan kelas priyai atau orang yang memiliki kemampuan secara ekonomi seperti tuan tanah atau anak pejabat. Sedangkan pribumi biasa hanya dijadikan pekerja kasar dan petugas administrasi yang berfungsi melayani bangsa Eropa yang datang ke Indonesia.

Berbeda dengan penjajah Belanda, Perancis mengirim Herman Willem Daendels untuk menjadi gubenur di Indonesia. Perancis menjajah Indonesia dalam waktu yang singkat, sehingga tidak terlalu berdampak kepada pendidikan. Namun Daendels selama menjabat di Indonesia terutama di Jawa telah banyak meninggalkan pembangunan yang awalnya untuk kepentingan Perancis. Pribumi dijadikan pekerja dalam membangun sarana untuk memperkuat posisi Perancis dari ancaman Inggris. Daendels juga melatih tentara dari pribumi untuk dijadikan prajurit. Meskipun di Indonesia Perancis pengaruhnya tidak signifikan, akan tetapi di negara lain Perancis menjunjung tinggi timbal balik. Selain menjajah juga memperhatikan pendidikan penduduk tanah jajahan. Prancis sering menamainya dengan penetration pasicipicque atau penerasi damai. Di daerah jajahan Perancis diterapkan  kebebasan pendidikan (liberty) dan penyamarataan  (equality).

Ketika Indonesia dijajah oleh Inggris, thomas Stanford Raffles sebagai Letnan Gubernur jenderal di Indonesia melakukan perubahan sistem yang ada di jaman Belanda dan Perancis. Politik kolonial raffles berlandaskan dari ideologi liberal dan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan memberikan kebebasannya. Di antaranya politik liberal yang dipakai adalah mengubah penyerahan wajib pajak dan rodi dengan membayar sewa tanah yang besarnya disesuaikan dengan keadaan, rakyat diberi kebebasan untuk menentukan tanaman yang ditanam, dan bupati diangkat sebagai pegawai pemerintah. Dalam bidang pendidikan Raffles juga sangat tertarik dengan budaya dan bahasa Jawa. Pada tahun 1817 ia menerbitkan bukunya The History of Java, salah satu karya akademis pertama yang topiknya pulau Jawa. Raffles juga membantu dan menyokong perkumpulan kebudayaan dan ilmu pengetahuan di Indonesia. Setelah kekalahan Inggris dari Belanda, akhirnya Raffles mencari tempat baru untuk yang akan menjadi daerah kekuasaannya, daerah tersebut sekarang bernama Singapura. Raffles lebih menjunjung tinggi kemanusiaan dari pada Daendels, sehingga pendidikan di Singapura sangat diperhatikan.

Dari tiga penjajah di Indonesia yang paling humanis adalah Inggris dengan politik liberalnya, namun politik ini gagal karena pada pemerintahan Raffles tidak memiliki pemasukkan untuk negara, sehingga peraturan yang disusun kerajaan Inggris tidak dilakukan. Posisi ke dua adalah Perancis, meski terkenal dengan kejam, akan tetapi tujuan dari Daendels adalah bertahan dari serangan Inggris. Banyak peninggalan Daendles yang sekarang dapat dinikmati. Di posisi terahir adalah Belanda yang bertujuan untuk mengeksplorasi alam dengan memanfaatkan pribumi sebagai buruh dengan upah rendah bahkan tidak dibayar. Penjajah dengan tujuan yang berbeda akan menyebabkan perlakuan berbeda dalam memberikan pendidikan.

Pendidikan di Indonesia pada zaman Belanda bersifat rasial dan berwatak kelas, benarkah demikian?

Sistem pemerintahan penjajah Belanda di Jawa adalah sistem yang direc (langsung) maupun dualistik. Langsung artinya Belanda secara langsung memberikan perintah dan memposisikan diri sebagai pemerintah. Sedangkan dualistik, berarti melewati pihak kedua terutama dari kelas priyai. Oleh karena itu, bersamaan dengan hirarki Belanda, ada hirarki pribumi yang berfungsi sebagai perantara antara petani Jawa dan layanan sipil Eropa. Bagian atas struktur hirarki pribumi ini terdiri dari para aristokrasi Jawa dan priyayi ini terpaksa melaksanakan kehendak Belanda. Pembagian ini juga diberlakukan dalam pendidikan. Belanda mendekotomi antara golongan bawah, golongan menengah, dan golongan atas. Golongan bawah diperuntukkan rakyat jelata, pendidikan menengah diperuntukkan golongan bangsa Eropa dan bangsa Timur seperti China, dan golongan atas yang disederajatkan dengan Belanda.Namun Kesempatan untuk mengenyam pendidikan untuk orang pribumi hanya diperuntukkan kelas priyai atau orang yang memiliki kemampuan secara ekonomi seperti tuan tanah atau anak pejabat.

Sistem  “Oester  LagerOnderwijs”  (OLO) membuktikan adanya kelas dalam pendidikan pada era penjajahan Belanda,  jenis-jenis  sekolahnya  secara  berturut-turut  sebagai berikut:

  1. Pada permulaan  tahun  1850  didirikan  sekolah  kelas  I  yang  lamanya  5  tahun  dan diperuntukkan  bagi  anak-anak  dari  lingkungan  pangreh  praja  dan  ditempatkan  di  kota-kota kerisidenan. Mata pelajaran; membaca, menulis, berhitung,
  2. Pada akhir abad XIX didirikan sekolah kelas II yang lamanya 4 tahun dan ditempatkan di kota-kota kabupaten. Pelajarannya berkisar sekitar membaca, menulis, bahasa daerah dan bahasa pengantarnya yaitu bahasa daerah.
  3. Pada tahun  1875  pemerintah  Belanda  mendirikan  sekolah  pamong  praja  dan  yang diterima menjadi murid-murid ialah lulusan sekolah kelas I.
  4. Maka pada tahun 1903, pendidikan dan pengajaran bagi rakyat umum atau rakyat jelata diperluas, dengan memperbanyak  sekolah  kelas  II  secara  perlahan-lahan.  Kemudian diadakan peraturan mendirikan sekolah dasar yang lamanya 3 tahun (kelas I, II, III).
  5. Guru-guru untuk Volkschool mendapat didikan pada Cursus voor volksondrwijs (CVO) yang lamanya 2 tahun.
  6. Pada tahun  1907  sekolah  kelas  I  dijadikan  6  tahun  lamanya  dan  diberikan  pelajaran bahasa Belanda pada kelas III s/d VI
  7. Sekolah kelas  II  yang  dulunya  hanya  4  tahun,  dijadikan  5  tahun  dengan  dipertinggi rencana pelajarannya.
  8. Pada tahun 1914 juga didirikan sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) yang merupakan sambungan dari HIS dan sekolah rendah Belanda.
  9. Pada tahun 1920 pemerintah menciptakan sekolah baru yang disebut “Schake School”.

Dari sekian sekolah (1-9) hampir seluruhnya bersistem kelas. Sekolah hanya diberikan kepada orang-orang yang mampu atau yang dekat dengan kota. Corak kelas itu diberikan pada orang kuat dan mampu secara ekonomi atau yang memiliki tanah yang luas. Tahun 60 yang dapat menyekolahkan anaknya ke SMA hanya orang-orang kaya.

Sistem seleksi di sekolah-sekolah menunjukkan bahwa tidak setiap siswa dapat sekolah sesuai harapan, karena sekolah telah memilih siswa. Demikian pula sistem pengklasteran sekolah (seperti sekolah bertaraf internasional dan sekolah unggul) menimbulkan wali murid cendurung memilih sekolah dan diperuntukkan untuk siswa yang mapan ekonominya dan yang pintar. Lingkaran inilah yang menyebabkan ada sekolah yang diunggulkan dan sekolah kualitas rendah. Sekolah yang diunggulkan mendapat siswa dengan kualitas baik, sisanya diberikan sekolah yang kualitas rendah. Akhirnya, siswa yang kualitas baik akan lebih baik, sementara siswa yang kualitasnya rendah akan bertambah rendah. Jika sekarang masih ada yang demikian, berarti hal itu diindikasikan warisan Belanda.

Kompleksitas pengaruh kebijakan nasional dan lokal sekolah bagi siswa

Kebijakan nasional dan lokal berpengaruh terhadap prestasi belajar baik kognitif maupun non kognitif siswa. Bagaimanapun sekolah atau lebih mikro lagi guru di kelas adalah pelaksana dari kebijakan nasional dan lokal. Mereka akan jadi korban apabila terjadi kebijakan yang hanya sekedar uji coba, tetapi gagal. Sebagai contohnya adalah kebijakan berubah kurikulum yang silih berganti dibuat pemerintah, akan membuat efek kebingungan di tingkat sekolah bahkan kelas. Guru yang terlanjur menggunakan kurikulum A karena kebijakan yang semena-mena dari pemerintah dengan mengganti kurikulum B kemudian diminta kembali ke kurikulum A, tentu saja akan membuat gaduh di tingkat paling bawah. Prestasi siswa dapat terganggu terhadap perubahan ini, apalagi dengan adanya tambahan jam pelajaran pada kurikulum baru atau diterapkannya full day school akan membuat anak jenuh dan intensitas dengan masyarakat sebenarnya akan lebih kecil.

Hubungan antara rumah dan sekolah akan memberikan andil terhadap prestasi belajar baik akademik dan non akademik. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa keterlibatan  orang tua  memiliki  pengaruh  positif  yang  kuat terhadap prestasi siswa. Ketika orang tua terlibat dalam kegiatan sehari-hari mereka, anak-anak mampu tampil  lebih  baik  secara  akademis,  melewatkan  beberapa  hari,  dan  memiliki keterampilan sosial yang lebih baik bukan hanya Ibu, tetapi juga keterlibatan ayah.

Guru juga berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Guru merupakan orang tua di sekolah. Guru memerankan peran penting bagi prestasi belajar siswa. Adanya guru dengan tidak adanya guru pasti akan membuat perbedaan dalam semangat belajar. Selain itu, guru juga berperan dalam menghubungkan antara sekolah dan orang tua.

Selain orang tua dan guru, kepala sekolah dan administratornya akan memberikan kebijakan sesuai dengan visi misi sekolah, termasuk jam belajar. Meskipun di sini yang paling besar perannya adalah guru, tetapi kadang administrator yang juga memanage guru dengan kebijakan-kebijakan jadwal, program-program baik akademik mau pun non akademik. Hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam meningkatkan prestasi belajar siswa adalah latar belakang mereka. Bagaimana pun anak/siswa adalah makhluk unik di mana antara satu dengan yang lain terdapat banyak perbedaan. Perbedaan itu juga dipengaruhi selain hereditas juga latar belakang mereka. Sebagai contoh pemberian waktu terhadap siswa yang pandai dengan yang biasa tentu memerlukan waktu yang berbeda[1]. Begitu juga anak yang suka dengan visual seharusnya tidak diberikan penerapan yang sama untuk anak yang audio/verbal.

Jadi, ini semua menunjukkan bahwa untuk mengadakan sekolah bermutu untuk semua dan adil memerlukan dukungan dari semua komponen kebijakan nasional dan lokal, orang tua, sekolah, ruang kelas, guru, dan siswa.

[1] Martin  J.A.  Ratcliffe  &  Melissa  L  Harts.  2011.  “  Schools  That  Make  The  Grade”:  What Successful  Schools  Do  To  Improve  Student  Achievement.  Paulh  Brookes  Publishing. Baltimore. London.Sydney

Translate »