Ciri-Ciri Model Pembelajaran (Models of Teaching)

Ciri-Ciri Model Pembelajaran (Models of Teaching)

Model Pembelajaran adalah prosedur sistematis dan terorganisir dalam  mengaktifkan pengalaman belajar siswa untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Menurut Joyce et al, model pembelajaran merupakan gambaran dari lingkungan pembelajaran yang dinamis dimulai  dari perencanaan pembelajaran, topik materi, bagian-bagian dari pelajaran untuk merangcang materi pelajaran, lembar kerja, program, dan kompetensi untuk mencapai tujuan program pembelajaran.

Ciri-ciri model disebutkan antara lain (1) Landasan teori, (2) Sintaks, (3) Prinsip reaksi, (4) Sistem Sosial, (5) sistem pendukung, dan (6) Aplikasi dan efeknya

  1. Landasan teori

Landasan teori adalah kajian filosofi terhadap teori yang mendasari model. Satu landasan itu menuju pada Fokus. Fokus adalah tujuan utama model. Komponen fokus berkisar pada tujuan utama model. Apakah fokus acara pembelajaran untuk mendorong pembelajaran dengan memanipulasi pemikiran atau jenis pemikiran; pertumbuhan belajar melalui rangsangan eksternal atau penghargaan; pembelajaran sosial, atau pertumbuhan sosial dan emosional melalui interaksi; atau peningkatan tingkat pencapaian diri dan pertumbuhan pribadi melalui pilihan yang diarahkan secara pribadi? Model biasanya dikembangkan dengan fokus, tujuan akhir, atau niat khusus dalam pikiran. Misalnya, konsep Penguasaan Guru Madeline Hunter yang sangat populer berfokus pada penyajian materi dengan cara yang dikontrol ketat dan sangat berulang sehingga peserta didik memiliki kesempatan optimal untuk mendapatkan konten, konsep, atau proses yang benar pada saat pertama. Contoh lain – dalam model pembelajaran kooperatif, fokusnya adalah pada pentingnya pertukaran sosial dan dukungan sebaya dalam mempelajari hal-hal baru. Oleh karena itu model berbeda satu sama lain dalam hal tujuan utama atau titik fokus dari hasil yang diinginkannya.

2. Sintak,

Sintaks menggambarkan struktur model dan mencakup urutan langkah-langkah yang terlibat dalam pengorganisasian model. Ini mencakup komponen utama dan fase pembongkaran, atau urutan langkah, dan menjelaskan bagaimana model berjalan. Tentunya sintaksnya bisa sangat berbeda untuk setiap model.

3. Prinsip Reaksi

Prinsip reaksi memberi tahu kepada guru bagaimana cara memperhatikan peserta didik dan bagaimana menanggapi apa yang dilakukan pembelajar saat menggunakan model. Seringkali tanggapan dalam menggunakan model yang ditunjuk harus sesuai dan spesifik secara selektif. Unsur ini berkaitan dengan reaksi guru terhadap tanggapan siswa. Bagian dari model ini mengingatkan guru tentang bagaimana bereaksi terhadap tanggapan siswa. Di sinilah guru mengetahui apakah peserta didik telah terlibat aktif dalam proses dan langkah model.

4. Sistem Sosial

Sistem sosial menggambarkan interaksi antara siswa dan guru karena setiap model dipandang seolah-olah merupakan masyarakat mini. Karena setiap model pengajaran berbeda, setiap model akan memiliki sistem sosial dan aturan keterlibatannya sendiri. Bagian ini menyangkut peran interaktif dan hubungan antara guru dan siswa, norma yang diharapkan, dan perilaku siswa mana yang harus dihargai. Ini dapat digambarkan secara terang-terangan atau hanya disimpulkan. Bergantung pada orientasi filosofis model, pada beberapa model peran guru dominan, sementara pada peran lain perannya pasif. Pada beberapa model peran berpusat pada guru, dan pada konsentrasi yang lain ada pada siswa. Masih ada model lain yang memerlukan peran bersama dimana guru dan siswa berbagi peran secara setara. Di segmen ini, baik strategi motivasi maupun taktik untuk melibatkan siswa dapat didiskusikan juga.

5. Sistem pendukung

Sistem pendukung mendefinisikan kondisi pendukung yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan model dengan sukses. ‘Dukungan’ mengacu pada persyaratan tambahan, di luar kemampuan dan kemampuan umum manusia biasa, yang dibutuhkan untuk menerapkan model ini. Komponen ini berkaitan dengan persyaratan tambahan di luar yang umumnya dimiliki oleh guru atau ditemukan di sekolah. Persyaratan apa yang dibutuhkan untuk membuat model ini bekerja? Apakah keahlian atau pengetahuan khusus dibutuhkan; atau apakah ada peralatan khusus, media, atau persyaratan lingkungan belajar yang perlu diakses dengan menggunakan model ini? Dukungan ini juga mencakup buku-buku khusus, film, peralatan laboratorium, bahan referensi, perizinan, fasilitas, dll.

6. Aplikasi dan efeknya agak jelas

Aplikasi dan efek dampak jelas artinya bagaimana siswa dapat menggunakan model yang diajarkannya? Aplikasi adalah kegunaan model karena dapat ditransfer ke situasi lain. Setiap model mencoba menerapkan beberapa perubahan pada peserta didik dan mempengaruhi pemikiran, perasaan, interaksi sosial, atau gerakan fisik mereka sedemikian rupa sehingga perubahan tersebut dapat ditransfer ke situasi dan pengalaman lain.

(Joyce, Well, and Chaloun, 2015. Models of Teaching)

Download Chapter Models of Teacher

Pengembangan Profesionalisme guru antara in-the-job dan job-embedded

Guru merupakan komponen penting dalam meningkatkan mutu pendidikan baik tingkat makro (pendidikan nasional), meso (pendidikan di Institusi), maupun mikro (di kelas). Sering disebut-sebut bahwa mutu sekolah sangat ditentukan oleh kualitas guru. Namun sayangnya, pembinaan guru selama ini masih hanya sekedar  in-job professional development. Fokus perbaikan guru lebih membutuhkan pada job-embedded professional development. Lalu Apa itu  in-job professional development dan job-embedded professional.

However, ‘one shot’, ‘sit and get’ workshops are becoming less effective in today’s busy world”(Jana Hunzicker, 2011)[1] (Bagaimanapun, sekalai, duduk dan mengikuti, Workshops menjadi kurang efektive pada dunia yang sibuk sekarang)

 Kata-kata itu mungkin dapat menggambarkan bahwa in-job professional development. Workshop di sini  adalah semacam pelatihan yang berbentuk seminar atau pelatihan umum yang tidak tepat sasaran. Sebagian besar informasi yang sedikit diingat, dan bahkan sedikit kemungkinan diterapkan setelah guru kembali ke rutinitas guru sehari-hari ketika di sekolah. Pelatihan in-job berguna untuk menjaga pengetahuan dan keterampilan guru tetap up to date, akan tetapi kalau digunakan untuk mengembangkan profesionalitas guru, maka hal ini kurang efektif[2].

Sebaliknya, pengembangan profesional yang lebih efektif adalah job-embedded professional development (JEPD), dimana pelatihan yang tepat sasaran, relevan dan otentik. Pengembangan profesional menjadi relevan saat terhubung dengan tanggung jawab guru sekarang dan menjadi otentik bila digabungkan secara integrative ke dalam masing-masing sekolah, melibatkan guru dalam kegiatan seperti pembinaan, pendampingan dan kelompok belajar. Pelatihan ini secamam mentoring. JEPD mengacu pada pembelajaran guru yang didasarkan pada praktik mengajar sehari-hari dan dirancang untuk meningkatkan praktik pembelajaran spesifik guru dengan tujuan untuk meningkatkan pembelajaran siswa (Darling-Hammond & McLaughlin, 1995 ; Hirsh, 2009) [3],[4]. Kegiatan pembelajaran mengharuskan guru untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan, mencoba hal baru dan menganalisis keefektifan tindakan mereka. Guru mengambil pengembangan profesional yang tertanam dengan pekerjaan karena itu ‘nyata’. Namun pelatihan ini menguras biaya dan juga waktu dalam mengatur dan mengimplementasikan West, P.R. (2002)[5].

Ciri JEPD antara lain:

  1. Berlaku dalam praktik mengajar sehari-hari.
  2. Terjadi secara teratur.
  3. Terdiri dari guru yang menganalisis
  4. Belajar dan menemukan solusi untuk segera
  5. Masalah latihan
  6. Selaras dengan standar siswa, sekolah
  7. Kurikulum, dan tujuan perbaikan sekola

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan dari JEPD terletak padan lebih:

  1. Learner-centered
  2. Knowledge-centered
  3. Community-centered dan
  4. Assessment-centered, (Coggshall, J.G. dkk, 2012)[6]

Sumber:

[1] Jana Hunzicker, (2011). Effective professional development for teachers: a checklist. Professional Development in Education. Vol. 37, No. 2, April 2011, 177–179. http://dx.doi.org/10.1080/19415257.2010.523955

[2] Ibid

[3] Hirsh, S. (2009). A new definition. Journal of Staff Development, 30(4), 10–16.

[4]Hawley, W. D., & Valli, L. (1999). The essentials of effective professional development: A new consensus. In L. Darling-Hammond & G. Sykes (Eds.), Teaching as the learning profession: Handbook of policy and practice(pp. 127–150). San Francisco: Jossey-Bass.

[5] West, P.R. (2002) 21ST Century Professional Development: Job-embeded, Continual Learning Model. American Secondary Education, 30-2

[6] Coggshall, J.G. dkk, (2012) Generating Teaching Effectiveness: The Role of Job-Embedded Professional Learning in Teacher Evaluation. USA: National Comprehensive Center for Teacher Quality

Translate »