Mengapa Bintang Deret Utama Memiliki Kemiripan Komposisi Kimia?

Stanislaw Halas 1, Tomasz Durakiewicz 2 1 Institut Fisika, Maria Curie-Sklodowska, Lublin, Polandia 2 Los Alamos National Laboratory, MPA-CMMS Group, Los Alamos, USA

Pada makalah menceritakan tentang bagaimana bintang deret utama memiliki kemiripan komposisinya. Komposisi kimia dari bintang terkait dengan perkembangan evolusi bintang. Bintang lahir dari berbagai ukuran nebula antarbintang dan mati sebagai katai putih, bintang neutron atau lubang hitam. Selama tahap evolusi terbaru sebuah pecahan yang signifikan dari massa bintang ditolak kembali ke ruang angkasa, yang memperkaya sumber dari materi antar bintang.

Menurut ide-ide dari nukleosintesis [1,2] bintang muda harus lebih diperkaya dengan “logam”, yaitu unsur yang lebih berat daripada Helium. Namun, banyak logam yang diamati dari urutan bintang utama dalam cluster termuda dan bintang-bintang di gugus bola tertua nampak sangat mirip. Bintang dan cluster di galaksi kita menunjukkan kelebihan logam bahkan dalam rentang usia 5–9 miliar tahun (Giga-annum)[3]. Selain itu, garis-garis K dan H dari kalsium terionisasi yang paling menonjol pada galaksi yang paling jauh dan garis-garis logam ini digunakan oleh Edwin P. Hubble untuk mengevaluasi pergeseran merahnya.

Tujuan makalah ini adalah untuk menjelaskan paradoks atas dasar kriteria Jeans [4]. Untuk penjelasannya kita akan kembali ke tahap awal formasi bintang, yaitu kontraksi gravitasi dari nebula gas yang cukup besar.

Ini bukan tujuan bagian ini untuk mengulangi model suhu dan kepadatan evolusi alam semesta dari saat satu miliar tahun yang lalu (1 Ga) ke Big Bang (~ 14 Ga sebelum sekarang). Literatur tentang materi ini sudah banyak ada, lihat misalnya [6] dan referensi di dalamnya. Kembali ke waktu ini, dengan mengamati lebih dan benda yang lebih jauh, satu catatan bahwa pada waktu tertentu kuasi super-giant objek bintang (quasar) terbentuk sebelum bintang.

Dalam rangka untuk mendapatkan Pers. (4) massa tunggal galaksi (10 10 M ) bukan bintang tunggal, ekspresi T 3/2 n -1/2 harus mencapai nilai urutan 10 9. Ini mengimplikasikan suhu yang seharusnya setidaknya 10 K. Pada sebagaimana materi bersuhu tinggi tidak akan hanya benar-benar terionisasi, tetapi terjadi siklus termonuklir p-p, yang mungkin mencegah gravitasi kontraksi dari nebula, dengan mengabaikan ukurannya. Kesimpulannya, massa awal quasar lebih rendah dari massa galaksi tertentu. Jika mereka benar-benar dicapai massa besar, pasti karena akresi berikutnya.

Pada suhu di bawah 10 4 K (k B T = 1 eV) atom hydrogen sebagian besar adalah netral dan objek bintang kuasi terbentuk pada saat itu dapat mencapai10 6 M . Benda-benda yang sangat eksplosif mnginjeksi unsur-unsur membentuk berat baru dengan materi hidrogen primordial. Untuk alasan ini bahkan bintang-bintang tertua yang ada sekarang digugus bola terbentuk dari hidrogen diperkaya “Logam” yang dihasilkan pada tahap awal keberadaan alam semesta.

Kesimpulan

Sebuah diskusi kritis kriteria Jeans untuk gravitasi kontraksi dari nebula gas mengarah pada kesimpulan bahwa fraksi utama “logam” dibentuk pada tahap sangat awal dari evolusi alam semesta. Ini menjawab pertanyaan yang judul tulisan yang dibesarkan di atas.

Selain itu, kriteria Jeans mengarah ke estimasi yang reabilitas dari batas atas massa awal quasar. Quasar tidak dapat mencapai massa dari galaksi yang khas (10 10 M ), tetapi kemungkinan besar mereka terbentuk pada suhu di bawah 10 4 K dan massa awal mereka tidak melebihi 10 6 M . Jika mereka mencapai massa yang lebih besar, pasti hasil dari proses akresi berikutnya.

 

Literasi saja tidak cukup

Judul tersebut nampak sangat menggelitik bagi kita. Padahal literasi sering sekali digembor-gemborkan oleh pemerintah bahwa literasi membuka cakrawal, literasi sebagai budaya pencerdas bangsa, litersai membangun pendidikan bangsa, dan seterusnnya. Pada buku literacy is not enough 21 st Century Fluencies for the Digital Age karya Lee Crockett dkk (2011) menjawab bahwa litersai saja tidak cukup. Bagaimanapun literasi pada abad 21 masih menjadi unsur penting dalam skill-skill yang dikembangkan. Dikatakan dalam buku tersebut jika siswa kita ingin bertahan, budaya abad 21 seperti teknologi harus diturunkan secara otomatis, berikan secara berlimpah, dan mengakses kebutuhan global, kemudian keterikatan berpikir, dan berpikir kreatif dan memegang kekinian.

. Kita harus berubah ke cara berpikir kita atau fokus utama kota adalah meningkatkan berpikir kritis, kreatif dan keterampilan penyeleaian masalah. Paling tidak ada lima skill menurut pembagiannya, yaitu: keteramplan umum, keteramplan  tradisional, tradisional literasi, keterampilan tradisional dengan meningkatkan atau membedakan tekanan dan keterampilan unik abad 21. Pendidikan tidak hanya fokus pada tujuan jangka pendek saja. Pendidikan harus mengidentifikasi keterampilan di dunia

Mengapa Kajian tentang Ilmu Alam lebih sukses dari pada tentang manusia terutama pendidikan?

Mengapa Kajian tentang Ilmu Alam lebih sukses dari pada tentang manusia terutama pendidikan?

Alam memberikan rangsangan sesuai dengan karakteristiknya, berbeda dengan manusia. Hal ini menyebabkan fenomena alam lebih mudah dipelajari dan diberikan penjelasan secara pasti. Sebaliknya manusia yang mempunyai berbagai aspek yang dinamis, akan lebih sulit dipelajari dan dilakukan perlakuan. Oleh karena itu, pendidikan yang merupakan fenomena manusia juga lebih rumit dipelajari dan bersifat fleksibel. Bahkan penelitian kulitatif yang cenderung ke arah sosial humaniora, akan memiliki hasil yang memungkinkan berubah. Itulah mengapa dalam merencanakan penelitian kulitatif, peneliti tidak dapat secara pasti menentukan vareablel dan masalah-masalah yang dihadapi, sebelum peneliti melakukan penelitiannya. Hal tersebut membuktikan betapa dinamisnya perubahan manusia.

Menurut pandangan saya, ada benarnya bahwa tinjauan historis dilakukan karena manusia memiliki masa lalu dan memiliki kemempuan memberikan arti apa saja yang dihadapi. Manusia memiliki masa lalu artinya manusia berubah sesuai dengan latar belakang historisnya. Watak dan perilakukan sangat dipengaruhi oleh masa lalu yang pernah ia lalui. Manusia berkembang sesuai dengan watak dan lingkungannya. Hal ini menyebabkan historis menjadi penting dalam kajian ilmiah tentang manusia. Sebelum melakukan kebijakan tertentu, diperlukan kajian historis dan latar belakang permasalahan. Duduk masalahnya perlu dikaji, kemudian melihat aspek historis selain landasan pendidikan yang lainya seperti filosofis, psikologis, atau bahkan yuridis.

Manusia memiliki kemapuan memberikan arti apa saja yang dihadapi. Artinya manusia juga memiliki pandangan sendiri terhadap sesuatu. Tinjauan historis dilakukan karena ingin mengetahui apa yang tujuan manusia di masa lalu. Dengan mengetaui tujuan-tujuan tersebut, akan didapatkan alasan dan sebab terjadinya situasi yang sekarang terjadi. Pandangan ini dapat dilihat sebagai filosofi yang dipakai manusia dalam melakukan sesuatu.

Sintesis Penelitian Pendidikan Fisika Terkini: Reviu dari Sintesis Doctor dan Mestre II

II. Problem Solving

Fokus riset pada problem solving pertama adalah mendokumentasikan apa yang siswa lakukan ketika menyelesaikan masalah, dan kedua dengan mengembangkan dan mengevaluasi strategi pembelajaran yang ditujukan pada kesulitan siswa. Riset juga fokus pada upaya mengembangkan kemampuan untuk “berpikir seperti seorang fisikawan”. Semenjak problem solving merupakan proses kognitif yang kompleks, bidang penelitian juga saling melengkapi yang kuat dengan sesi psikologi kognitif. (more…)

Semikonduktor p-n dan Logam-Semikonduktor I

Semikonduktor p-n dan Logam-Semikonduktor I

9.1 Pendahuluan


Sering sekali membahas tentang semikonduktor homogen. Meskipun sedikit alat yang dapat dibuat dari semikonduktor homogen. Alat-alat banyak menggunakan semikonduktor non-homogen. Kebanyakan dari alat-alat tersebut menggunakan sambungan p-n, dimana daerah yang dikotori tipe-p dan daerah yang dikotori tipe-n. Biasanya sambungan p-n dibuat untuk dioda.

 
(more…)

Translate »