Siapa yang tidak kenal dengan Prof. H. Ahmad Syafii Maarif, Ph.D atau terkenal dengan Buya Syafii. Baru-baru ini viral foto beliau dimedia sosial sedang naik KRL, dari Stasiun Tebel  menuju ke istana Bogor untuk menghadiri  acara Peluncuran Program dari Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Meskipun demikian, pada usia beliau 82 tahun sangat berbahaya naik KRL, apalagi ada kendaraan yang siap antar jemput. Alasan beliau naik KRL cukup sederhana yaitu  tidak macet dan aman (Sumber: detik.com).

Kesederhanaan Guru besar dari IKIP Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarata) juga tercermin dari ceritanya berjudul “di Bengkel itu Ada Ayat Allah”. Menurut penulis, cerita ini dapat menginspirasi kita bahwa dari peristiwa sederhana dapat dipetik sebuah karakter atas kebesaran Allah (ayat Allah).

Cerita itu dimulai ketika beliau mencari rantai sepeda yang harus diganti. Di Jalan Godean Sleman yogyakarta mengarah ke utara, ada bengkel yang laris dikunjungi orang yang ingin reparasi sepeda. Di sana, beliau melihat anak kecil yang ditemani oleh ayahnya yang juga sedang memperbaiki sepeda kecil milik anak itu. Katika ada penjual eskrim melewati bengkel tersebut, anak itu kemudian merengek-rengek meminta dibelikan Es krim. Dengan lembut, si ayah mengatakan dalam bahasa Jawa “marai watuk” (menyebabkan batuk). Seketika itu, anak yang merengek-rengek tadi diam, tidak memberontak, tidak mengerutu, bahkan anak tersebut malah tersenyum. Kegembiraan anak itu sangat terlihat ketika sepeda yang telah ditambai bel di stang bagian kanan itu selesai.

Beliau menduga bahwa keluarga tersebut adalah keluarga tentram. Seorang anak yang ta’dim (patuh) pada orang tua di zaman modern seperti ini sangat langkah. Sebuah kepatuhan alami hasil didikan dini yang teratur dan santun.

Siayah pun menanyakan pada Pak bengkel mengenai ongkosnya. Pak Bengkel itu kemudian menjawab bahwa semua harga onderdil dan pemasangannya Rp. 25.000. Harga ini menurut beliau adalah angka kacang goreng di kawasan kota.

Menurut beliau sikap Pak Bengkel ini juga sangat mulia. Apalagi ketika ada seorang pemuda yang menambal ban sepeda motornya yang bocor, dengan kesulitan yang lebih, beliau hanya meminta harga antara Rp. 5.000 samapi Rp. 6.000.

Setelah antrian lama, sekarang giliran beliau. Kata Pak Bengkel pada Beliau “ada dua yang  kerusakan, apakahan diganti satu atau dua sekaligus?” Beliaupun menjawab dengen pertanyaan balik ” mana yang lebih baik?”. Pak Bengkul itu menjawab lagi “cukup satu saja”.

Dalam batin Beliau mengatakan bahwa mengapa tidak ada niatan Pak Bengkel ini untuk melariskan dagangannya, padahal bisa saja Pak Bengkel mengatakan keduanya onderdil diganti.

Tak kalah mengejutkan beliau adalah setelah selesai perbaikan. Beliaupun bertanya ongkos semuanya. “Ongkos semuanya (onderdil dan penggatian dan pemasangan) Rp. 5000.” kata Pak Bengkel. Beliaupun memberikan ongkos lebih dari harga yang diminta dengan alasan Moral. Kemudian beliau bertanya kepada Pak Bengkel “bengkel selaris ini, mengapa tidak menjual bensin?” jawab pak Bengkel dengan polos ” Agar berbagi rezeki dengan tetangga yang punya kedai bensin, sekalipun banyak orang yang menanyakan BBM itu kepadanya”.

Kata Beliau bahwa cerita ini adalah tanda Ayat Allah. Rezeki teman jangan direbut, meskipun peluang untuk mendapatkannya terbuka lebar. Pola umum penyimpangan yang terjadi sekarang adalah  saling menelikung, saling gasak, dan jika perlu saling menghancurkan demi berebut rezeki. Tanda kearifan Pak Bengkel adalah sisa-sisa ke arifan lokal bangsa Indonesia.

  Sumber : Ma’arif, Syafi’i (2013). Di Bengkel  Itu Ada Ayat Allah. (Onlien: Senin 14 Agustus 2017 di alamat https://www.uny.ac.id/fokus-kita/prof-dr-syafii-maarif )