Kebijakan nasional dan lokal berpengaruh terhadap prestasi belajar baik kognitif maupun non kognitif siswa. Bagaimanapun sekolah atau lebih mikro lagi guru di kelas adalah pelaksana dari kebijakan nasional dan lokal. Mereka akan jadi korban apabila terjadi kebijakan yang hanya sekedar uji coba, tetapi gagal. Sebagai contohnya adalah kebijakan berubah kurikulum yang silih berganti dibuat pemerintah, akan membuat efek kebingungan di tingkat sekolah bahkan kelas. Guru yang terlanjur menggunakan kurikulum A karena kebijakan yang semena-mena dari pemerintah dengan mengganti kurikulum B kemudian diminta kembali ke kurikulum A, tentu saja akan membuat gaduh di tingkat paling bawah. Prestasi siswa dapat terganggu terhadap perubahan ini, apalagi dengan adanya tambahan jam pelajaran pada kurikulum baru atau diterapkannya full day school akan membuat anak jenuh dan intensitas dengan masyarakat sebenarnya akan lebih kecil.

Hubungan antara rumah dan sekolah akan memberikan andil terhadap prestasi belajar baik akademik dan non akademik. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa keterlibatan  orang tua  memiliki  pengaruh  positif  yang  kuat terhadap prestasi siswa. Ketika orang tua terlibat dalam kegiatan sehari-hari mereka, anak-anak mampu tampil  lebih  baik  secara  akademis,  melewatkan  beberapa  hari,  dan  memiliki keterampilan sosial yang lebih baik bukan hanya Ibu, tetapi juga keterlibatan ayah.

Guru juga berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Guru merupakan orang tua di sekolah. Guru memerankan peran penting bagi prestasi belajar siswa. Adanya guru dengan tidak adanya guru pasti akan membuat perbedaan dalam semangat belajar. Selain itu, guru juga berperan dalam menghubungkan antara sekolah dan orang tua.

Selain orang tua dan guru, kepala sekolah dan administratornya akan memberikan kebijakan sesuai dengan visi misi sekolah, termasuk jam belajar. Meskipun di sini yang paling besar perannya adalah guru, tetapi kadang administrator yang juga memanage guru dengan kebijakan-kebijakan jadwal, program-program baik akademik mau pun non akademik. Hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam meningkatkan prestasi belajar siswa adalah latar belakang mereka. Bagaimana pun anak/siswa adalah makhluk unik di mana antara satu dengan yang lain terdapat banyak perbedaan. Perbedaan itu juga dipengaruhi selain hereditas juga latar belakang mereka. Sebagai contoh pemberian waktu terhadap siswa yang pandai dengan yang biasa tentu memerlukan waktu yang berbeda[1]. Begitu juga anak yang suka dengan visual seharusnya tidak diberikan penerapan yang sama untuk anak yang audio/verbal.

Jadi, ini semua menunjukkan bahwa untuk mengadakan sekolah bermutu untuk semua dan adil memerlukan dukungan dari semua komponen kebijakan nasional dan lokal, orang tua, sekolah, ruang kelas, guru, dan siswa.

[1] Martin  J.A.  Ratcliffe  &  Melissa  L  Harts.  2011.  “  Schools  That  Make  The  Grade”:  What Successful  Schools  Do  To  Improve  Student  Achievement.  Paulh  Brookes  Publishing. Baltimore. London.Sydney