Judul tersebut nampak sangat menggelitik bagi kita. Padahal literasi sering sekali digembor-gemborkan oleh pemerintah bahwa literasi membuka cakrawal, literasi sebagai budaya pencerdas bangsa, litersai membangun pendidikan bangsa, dan seterusnnya. Pada buku literacy is not enough 21 st Century Fluencies for the Digital Age karya Lee Crockett dkk (2011) menjawab bahwa litersai saja tidak cukup. Bagaimanapun literasi pada abad 21 masih menjadi unsur penting dalam skill-skill yang dikembangkan. Dikatakan dalam buku tersebut jika siswa kita ingin bertahan, budaya abad 21 seperti teknologi harus diturunkan secara otomatis, berikan secara berlimpah, dan mengakses kebutuhan global, kemudian keterikatan berpikir, dan berpikir kreatif dan memegang kekinian.

. Kita harus berubah ke cara berpikir kita atau fokus utama kota adalah meningkatkan berpikir kritis, kreatif dan keterampilan penyeleaian masalah. Paling tidak ada lima skill menurut pembagiannya, yaitu: keteramplan umum, keteramplan  tradisional, tradisional literasi, keterampilan tradisional dengan meningkatkan atau membedakan tekanan dan keterampilan unik abad 21. Pendidikan tidak hanya fokus pada tujuan jangka pendek saja. Pendidikan harus mengidentifikasi keterampilan di dunia