Untuk mengajar sains, seorang guru perlu mengatahui bagaimana sains bekerja, anggapan siswa terhadap sains, merencanakan pembeljaran sains, mengelola pembelajaran, mengukur ketercapaian, melihat perbedaan siswa, dan melakukan inovasi lanjutan.

  1. Bagaimana sains bekerja

Sains itu pelajaran yang sangat menyenangkan, terutama melihat dari bagaimana sains bekerja. Sains bekerja dengan metode saintifik dimana siswa diminta untuk menlakukan observasi terhadap sesuatu yang menjadi ketertarikan mereka. Bagaimana tidak menyenangkan mengobservasi terhadap yang mereka sukai. Misalnya siswa memperhatikan bagaimana air dan minyak tidak dapat homogenkan ketika keduanya dituangkan dalam air dan lalu mengaduknya. Seteleh siswa mengobservasi, mereka dengan sendirinya akan bertanya-tanya terhadap fenomena tersebut. Pertanyaan inilah yang akan menjadikan anak termotivasi untuk mencari tahu, karena sifat dari anak adalah curesity atau rasa ingin tahunya besar. Kejadian ini, meskipun tidak tertulis, seharusnya muncul ketika mereka mengobserv asi sesuatu yang fenomenal. Setelah mereka bertanya-tanya, mereka mulai mengira-ngira jawaban dari pertanyaan tersebut. Perkiranaan meraka tentunya tidak seragam. Misalkan dari contoh di atas, mereka bisa saja mengira bahwa air dan minyak merupakan zat yang berbeda kekentalan, berbeda kelembapan, perbedaan tegangan air, dan seterusnya.

Kenyataan ini, perlu disadari bahwa dugaan siswa akan begitu saja bergulir dalam pikiran mereka. Meskipun ini kurang tepat, tetapi seorang guru tidak bisa menyalahkan mereka. Bagaimanapun, mereka telah memiliki pengetahuan awal mereka yang menjadi dasar mereka berprediksi seperti itu. Tugas dari guru adalah bagaimana menggiring persepsi awal terhadap jawaban sementara itu menjadi terarah pada jawaban sebenarnya. Misalnya, guru memberikan pertanyaan “siapa yang posisinya di atas dan siapa yang di bawah?” Dengan pertanyaan fakta ini, tentu siswa akan menjawab sama, yaitu posisi minyak berada di atas. Dari pertanyaan guru, siswa dimungkinkan akan merubah konsepsinya dari perbedaan kekentalan menjadi perbedaan berat. Meskipun demikian, guru tidak bisa menyalahkan siswa mengapa mereka masih tidak dapat menjawab dengan tepat. Guru perlu memberikan pengalaman kepada siswa bahwa bahwa posisi minyak di atas dari pada air bukan hanya disebabkan berat minyak. Pengalaman itu dapat berupa analogi atau memberikan kasus yang membuat siswa merubah persepsinya bahwa posisi minyak di atas karena lebih ringan. Analogi tersebut dapat berupa contoh pada kapal yang terbuat dari besi tetapi kapal berada di atas air. Pengalaman yang lain berupa percobaan menghitung massa jenis minyak dan masa jenis air. Dari sini, siswa akan tahu bahwa yang menyebabkan minyak dan air tidak dapat dicampur secara homogen karena perbedaan massa jenis.

2. Anggapan siswa terhadap sains

Contoh bagaimana minyak dan iar tidak dapat dicampur secara homogen di atas merupakan contoh anggapan siswa terhadap fenomena alam. Guru seharusnya menjadi orang yang belajar tentang bagaimana siswa mengangaap terhadap sains itu sendiri. Apakah mereka merasa sains itu pelajaran yang menyenangkan atau sebaiknya? Ada sebuah lelucon dari siswa seperti mengapa kita capek-capai menghitung bola yang menggelinding. Ini merupakan contoh pertanyataan yang mematikan rasa ingin tahu siswa. Guru harus tanggap terhadap apa yang mereka tanyakan meskipun bernada bercanda. Bagaimanapun mereka hidup di zaman instan yang benci terhdap proses. Mereka perdi ditanamkan rasa ingin tahu yang tinggi sehingga mereka mau melakukan proses sains.

3. Merencanakan Pembelajaran sains

Pengeahuan guru terhadap siswa menjadi modal untuk membuat perencanaan pembelajaran. Guru harus dapat mengukur perencanaan tersebut tidak akan menyulitkan siswa. Kemudian sampai dimana perencanaan tersbut dapat dicapai oleh siswa. Indikator-indikator pencapaian harus jelas dan terukur. harmonisasi antara tujuan pembelajaran kegiatan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran harus dilakukan dan disesuaikan dengan karakteristik siswa. Penulis yakin, jika guru melakukan perencanaan yang seperti ini, siswa tidak akan berat dalam menghadapi sains. Apalagi kegiatan itu dikemas dalam pembelajaran yang ,menyenangkan.

4. Mengolah pembelajaran

Tahapan ini yang paling penting dalam pengajaran sains. Penerapan dari perencanaan bukan hanya sekedar menjalankan perencanaan, tetapi lebih dari itu. Seorang guru memerlukan kepemimpinan dalam pengelolaan kelas. Pengelolaan tersebut meliputi bagaimana siswa mendapatkan pengalaman belajar sesuai dengan gaya belajar mereka. Aktivitas-aktivitas student center sangat di harapkan.