Alam memberikan rangsangan sesuai dengan karakteristiknya, berbeda dengan manusia. Hal ini menyebabkan fenomena alam lebih mudah dipelajari dan diberikan penjelasan secara pasti. Sebaliknya manusia yang mempunyai berbagai aspek yang dinamis, akan lebih sulit dipelajari dan dilakukan perlakuan. Oleh karena itu, pendidikan yang merupakan fenomena manusia juga lebih rumit dipelajari dan bersifat fleksibel. Bahkan penelitian kulitatif yang cenderung ke arah sosial humaniora, akan memiliki hasil yang memungkinkan berubah. Itulah mengapa dalam merencanakan penelitian kulitatif, peneliti tidak dapat secara pasti menentukan vareablel dan masalah-masalah yang dihadapi, sebelum peneliti melakukan penelitiannya. Hal tersebut membuktikan betapa dinamisnya perubahan manusia.

Menurut pandangan saya, ada benarnya bahwa tinjauan historis dilakukan karena manusia memiliki masa lalu dan memiliki kemempuan memberikan arti apa saja yang dihadapi. Manusia memiliki masa lalu artinya manusia berubah sesuai dengan latar belakang historisnya. Watak dan perilakukan sangat dipengaruhi oleh masa lalu yang pernah ia lalui. Manusia berkembang sesuai dengan watak dan lingkungannya. Hal ini menyebabkan historis menjadi penting dalam kajian ilmiah tentang manusia. Sebelum melakukan kebijakan tertentu, diperlukan kajian historis dan latar belakang permasalahan. Duduk masalahnya perlu dikaji, kemudian melihat aspek historis selain landasan pendidikan yang lainya seperti filosofis, psikologis, atau bahkan yuridis.

Manusia memiliki kemapuan memberikan arti apa saja yang dihadapi. Artinya manusia juga memiliki pandangan sendiri terhadap sesuatu. Tinjauan historis dilakukan karena ingin mengetahui apa yang tujuan manusia di masa lalu. Dengan mengetaui tujuan-tujuan tersebut, akan didapatkan alasan dan sebab terjadinya situasi yang sekarang terjadi. Pandangan ini dapat dilihat sebagai filosofi yang dipakai manusia dalam melakukan sesuatu.