Informasi, Komuniakasi dan Teknologi (ICT) memang tidak bisa kita lepaskan dari zaman informasi sekarang ini. Meskipun sebagian orang mengatakan bahwa ICT dapat merusak tatanan nilai, namun disisi lain teknologi telah membawa percepatan informasi, akselerasi mutu, dan alat untuk memudahkan komunikasi. Bagaimanapun teknologi telah merubah cara kita berpikir, cara untuk melakukan sesuatu, dan cara menggunakan waktu luang.  Kellner, D. (2000) mengungkapkan bahwa “Jadi, daripada mengutuk dan menolak teknologi baru supaya tidak digunakan, lebih baik mengkritik dalam penyalahgunaan mereka dan juga melihat bagaimana teknologi baru dapat digunakan secara konstruktif untuk tujuan positif.”

Baru-baru ini isu tentang kelompok anti Pancasila berkembang dimasyarakat kita. Dikatakan bahwa sistem yang ditawarkan lebih baik dari pada falsafah Pancasila. Hal inilah yang menyebabkan pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Kejadian seperti ini, tentu saja bukan hanya berkembang dengan sendirinya. ICT pun kut turut menymbang penyebaran faham-faham anti Pancasila.

Bagaimana pendidikan memandangnya?

Informasi dapat saja menyusup ke dalam pemikiran mendalam pengguna ICT. Hal ini sangat menungkinkan dapat berbenturan dengan nilai-nilai kerpibadian bangsa seperti filsafat pancasila. Namun dalam rangka untuk memastikan teknologi digunakan secara konstruktif, perlu adanya rejuvenasi (melestarikan/ muda  kembali) pedagogik sebagai the art and science of teaching and educating (seni dan ilmu pengetahuan mengajar dan mendidik). Hal ini dilakukan dengan revitalisasi tentang pentingnya pedagogik. Karena teknologi tidak dapat menggantikan peran guru terutama perannya dalam mendidik. Begitu juga Shulman (1986) juga telah melihat pentingnya pengetahuan pedagogik bukan hanya sebatas pengetahuan isi.

Lalu bagaimana peran Pancasila?

Sangat penting bagi bangsa kita untuk membungkus pedagogik dengan landasan filosofis Pancasila. Tiap sila Pancasila harusnya menjadi ruh dari tingkat pendidikan nasional sampai pada tingkat praktis di kelas. Hal itu dapat diturunkan dari filosofi nasional sampai pada praktis[1]. Harapannya nilai-nilai Pancasila menjadi sebuah rangkaian tujuan dari setiap tujuan pendidikan yang bersifat dialektik. Artinya mendialogkan antara nilai-nilai yang dianggap baik dengan nilai-nilai Pancasila.

Notonagoro dalam Siswoyo, D. (2013)[2] menyebutkan bahwa upaya rejuvenasi dapat dilakukan dengen prinsisp eklektik-inkorporatif-harmonis-dinamis pada landasan pendidikan berbasis falsafah Pancasila. Arti dari  yaitu pendekatan menggabungkan eklektik-inkorporatif adalah mengembangkan pengayaan Filsafat Pendidikan Nasional Pancasila dari berbagai elemen filsafat pendidikan asing yang sesuai dan tidak bertentangan dengan kepribadian nasional, yang dengan dilepaskannya filsafat pendidikan asing dari dasar Sistem Aliran atau Filsafat yang mengikatnya kemudian dilakukan adaptasi dengan nilai-nilai kepribadian nasional. Harmonis berarti membentuk kekuatan utuh, sedangkan dinamis artinya dengan menyenangkan sekaligus berarti untuk menghasilkan gerakan yang cepat dan penuh antusias. Proses eklektik-menggabungkan harmoni dilakukan dengan peralihan-antisipatif-reflektif-peremajaan-dialektik sehingga penerapan Filsafat Pendidikan Nasional Pancasila selalu sarat dengan kreativitas baru yang akan menjawab tantangan dari waktu ke waktu.[3]. Akan tetapi perlu diingat bahwa upaya rejuvenasi hanya sebatas menambah, filsafat yang paling utama adalah Pancasila .

Sumber:

[1] Siswoyo, D. (2012). Urgensi, Tereduksi, dan Rejuvenasi Pendidikan Nasional dalam Membangun Jati Diri Bangsa. Prosiding Kongres Pendidikan, Pengajaran, & Kebudayaan. Yogyakarta:UGM

[2] Siswoyo, D. (2013). Philosophy of Education in Indonesia: Theory and Thoughts of Institutionalized State (PANCASILA). Asia Social Science. Canadian Centerof Science and Education. http://dx.doi.org/10.5539/ass.v9n12p136

[3] ibid