Guru merupakan komponen penting dalam meningkatkan mutu pendidikan baik tingkat makro (pendidikan nasional), meso (pendidikan di Institusi), maupun mikro (di kelas). Sering disebut-sebut bahwa mutu sekolah sangat ditentukan oleh kualitas guru. Namun sayangnya, pembinaan guru selama ini masih hanya sekedar  in-job professional development. Fokus perbaikan guru lebih membutuhkan pada job-embedded professional development. Lalu Apa itu  in-job professional development dan job-embedded professional.

However, ‘one shot’, ‘sit and get’ workshops are becoming less effective in today’s busy world”(Jana Hunzicker, 2011)[1] (Bagaimanapun, sekalai, duduk dan mengikuti, Workshops menjadi kurang efektive pada dunia yang sibuk sekarang)

 Kata-kata itu mungkin dapat menggambarkan bahwa in-job professional development. Workshop di sini  adalah semacam pelatihan yang berbentuk seminar atau pelatihan umum yang tidak tepat sasaran. Sebagian besar informasi yang sedikit diingat, dan bahkan sedikit kemungkinan diterapkan setelah guru kembali ke rutinitas guru sehari-hari ketika di sekolah. Pelatihan in-job berguna untuk menjaga pengetahuan dan keterampilan guru tetap up to date, akan tetapi kalau digunakan untuk mengembangkan profesionalitas guru, maka hal ini kurang efektif[2].

Sebaliknya, pengembangan profesional yang lebih efektif adalah job-embedded professional development (JEPD), dimana pelatihan yang tepat sasaran, relevan dan otentik. Pengembangan profesional menjadi relevan saat terhubung dengan tanggung jawab guru sekarang dan menjadi otentik bila digabungkan secara integrative ke dalam masing-masing sekolah, melibatkan guru dalam kegiatan seperti pembinaan, pendampingan dan kelompok belajar. Pelatihan ini secamam mentoring. JEPD mengacu pada pembelajaran guru yang didasarkan pada praktik mengajar sehari-hari dan dirancang untuk meningkatkan praktik pembelajaran spesifik guru dengan tujuan untuk meningkatkan pembelajaran siswa (Darling-Hammond & McLaughlin, 1995 ; Hirsh, 2009) [3],[4]. Kegiatan pembelajaran mengharuskan guru untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan, mencoba hal baru dan menganalisis keefektifan tindakan mereka. Guru mengambil pengembangan profesional yang tertanam dengan pekerjaan karena itu ‘nyata’. Namun pelatihan ini menguras biaya dan juga waktu dalam mengatur dan mengimplementasikan West, P.R. (2002)[5].

Ciri JEPD antara lain:

  1. Berlaku dalam praktik mengajar sehari-hari.
  2. Terjadi secara teratur.
  3. Terdiri dari guru yang menganalisis
  4. Belajar dan menemukan solusi untuk segera
  5. Masalah latihan
  6. Selaras dengan standar siswa, sekolah
  7. Kurikulum, dan tujuan perbaikan sekola

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan dari JEPD terletak padan lebih:

  1. Learner-centered
  2. Knowledge-centered
  3. Community-centered dan
  4. Assessment-centered, (Coggshall, J.G. dkk, 2012)[6]

Sumber:

[1] Jana Hunzicker, (2011). Effective professional development for teachers: a checklist. Professional Development in Education. Vol. 37, No. 2, April 2011, 177–179. http://dx.doi.org/10.1080/19415257.2010.523955

[2] Ibid

[3] Hirsh, S. (2009). A new definition. Journal of Staff Development, 30(4), 10–16.

[4]Hawley, W. D., & Valli, L. (1999). The essentials of effective professional development: A new consensus. In L. Darling-Hammond & G. Sykes (Eds.), Teaching as the learning profession: Handbook of policy and practice(pp. 127–150). San Francisco: Jossey-Bass.

[5] West, P.R. (2002) 21ST Century Professional Development: Job-embeded, Continual Learning Model. American Secondary Education, 30-2

[6] Coggshall, J.G. dkk, (2012) Generating Teaching Effectiveness: The Role of Job-Embedded Professional Learning in Teacher Evaluation. USA: National Comprehensive Center for Teacher Quality