Peran pedagogik  dapat menjadi penyeimbang antara hal yang baru dan yang lama. Pendapat konservasi bahwa kita hidup harus memegang erat budaya leleuhur. Manusia akan benar-benar menjadi manusia kalau ia hidup dalam budayanya sendiri. Manusia yang seutuhnya antara lain dimengerti sebagai manusia itu sendiri ditambah dengan budaya masyarakat yang melingkupinya[1]. Adapun moderisme atau juga pragmatisme yang mengidolakan teori evolusi[2] (Ornstein, Alan C. & Levine, Daniel U. , 1985), lebih pada pandangan survival sekarang dan menolak fondasi lama seperti idealis, realis dan parenialis. Pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang (menurut Ki Hajar Dewantara menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif)). Singkatnya, “educate the head, the heart, and the hand”.

Hyman, dkk (1979)[3] dalam bukunya yang berjudul “Education’s Lasting Influence on Values” menjelaskan hasil  survei  dari tahun 1950 sampai 1975 terhadap 45.000 orang dewasa kulit putih berusia 25 sampai 72 tahun tentang efek jangka panjang dari pendidikan. Data menunjukkan bahwa pendidikan menghasilkan efek baik dan bersifat abadi dalam ranah nilai. Buku ini juga berkomentar mengenai persejajaran antara penelitian ini dan sebuah studi sebelumnya berjudul “The Enduring Effects of Education” yang menyajikan bahwa peran pedagogic terhadap pengetahuan dan nilai begitu kua. Hal ini  dapat diartikan bahwa peran pedagogic sangat besar dalam menanamkan nilai-nilai adab, budaya, dan persatuan di samping pengetahuan. Sebagai contoh adalah terjadinya percepatnya perubahan ICT yang membawa difusi budaya dan informasi yang cepat dari luar ke dalam, peran pedagogic dapat dianggap sebagai filter yang dapat diandalkan jika direncanakan dan dilaksanakan dengan baik. Hal ini disebabkan karena pedagogic mengajarkan perilaku yang tepat dan tidak tepat, peran gender, nilai-nilai, dan pengetahuan tentang dunia (Kellner, D. 2000)[4].

Sumber:

[1] Riyanto, Theo. (2004). Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan. [online : 14 Juni 2017] http://bruderfic.or.id/h-59/pemikiran-ki-hajar-dewantara-tentang-pendidikan.html

[2] Ornstein, Alan C. & Levine, Daniel U. . (1985). An Introduction to The Foundations of Education. Boston: Houghton Mifftri Company.

[3] Hyman, Herbert H.; Wright, Charles R. (1979). Education’s Lasting Influence on Values. Chicago: University of Chicago Press

[4] Trifornas, P.P. (2000). Revolutionary Pedagogies Cultural Politics, Instituting Education, and the Discourse of Theory. New York: Routledge