Oleh : M. Anas Thohir ,

Pendahuluan

Sebelum menguraikan sedikit coretan saya, tentang filosofi pribadi saya dalam pendidikan. Saya ingin mengungkapkan pendapat saya ilmu. Saya mengangap bahwa ilmu itu datangnya dari Allah SWT baik langsung atau melalui perantara (tawasul) dari apapun atau siapapun (qodo’) dan ilmu akan diberikan kepada orang yang bersungguh-sungguh dalam belajar (qodar). Kerana itu Allah berfirman

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

Katakanlah (wahai Muhammad),Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Rabbku habis (ditulis), meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). [al-Kahfi/18:109]

Jadi saya lebih menganut As’ariyah dari pada condong ke jabariyah (eksrim kanan) ataupun ke qodariayah (ekstrim kiri).  Ada nasihat dari guru saya tentang mendidik yang mengandung unsur qodo’ dan qodar.

Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang Penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah.”( Nasehat KH. Maimun Zubair).

 

 Metafisika

Pada filsafat pendidikan, metafisika berhubungan dengan konsep realitas yang dapat ditinjau dari subjek, pengalaman, dan keterampilan pada kurikulum (Ornstein, Alan C. & Levine, Daniel U. , 1985).  Menurut saya subjek kebenaran memang apa yang dapat kita indra dan kita pikirkan atau dapat saya katakan dibalik yang nampak tersimpan misteri hikmah. Sebagai contoh sebuah meja dapat dikatakan meja jika meja yang dilihat sama dengan konsep meja yang ada dalam pikiran.  Jika kita melihat segi mepat yang punya kaki empat tetapi kita tidak punya konsep meja, maka kita tidak akan dapat mengatakan itu meja. Nah sekarang pada konsep tuhan apa dapat dilakukan dengan metode realis dan idealis? Tuhan menurut kaum idealis disebut juga universal mind, tetapi secara realis memang tidak disebutkan, karena menurut kaum realis kebenaran harus dapat diindra. Meskipun demikian dengan dengan melihat ciptaan tuhan (realis), kemudian kita bawa kepada konsep tuhan dalam pikiran akan lebih memantapkan iman kita. Menurut saya itu Tuhan telah meniupkan potensi-potensi anak dalam kandungan, sehingga kita dapat memberi nama-nama benda, berdasarkan hadist

قال النبى صلى الله عليه وسلم: كل مولود يولد على فطرة الإسلام، إلا أن أبواه يهودانه وينصرانه ويمجسانه. الحديث

Nabi SAW bersabda : Semua bayi itu dilahirkan dalam keadaan kesucian islam, hanya kedua orang tuanyalah yang membuatnya jadi yahudi, nasrani, atau majusi.

Yang berarti suci di sini adalah belum membawa dosa, bukan tanpa potensi seperti konsepnya John Locke tentang tabula rasa.

Meskipun pandangan metafisika yang saya pikirkan ini dekat dengan esensialis, namun saya tidak menolak pembaharuan untuk perbaikan berikutnya. Dalam urusan pendidikan sebagai agen pelestari budaya, kita tidak serta mesta mengikuti pragmatis, yang menganggap interaksi antara individu dengan alam selalu berubah. Meskipun ada perubahan tetapi ada upaya-upaya melestarikan kebudayaan yang baik. Saya lebih suka kata bijak

 خذ ما صفي ودع ما كدر

“ambil yang baik dan tinggalkan yang jelek” dari pada tinggalkan semua yang kuno atau yang bersifat tradisional (parenialism). Meskipun demikian kita tetap melakukan riset kuantitif pendidikan untuk pembahuruan yang lebih baik.

Dalam kebijakan kurikulum, lebih kepada pemberian mata pelajaran dasar yang mantap pada kelas-kelas awal. Mata pelajaran dasar sebagai prasyarat untuk menuju mata pelajaran yang lebih particular atau lebih spesifik. Mata pelajaran dasar antara lain agaman, bahasa, matematika, IPS, dan IPA. Sedangkan mate pelajaran particular seperti material, mikrobiologi, ekonomi makro dll.

Epsitemologi

Pandangan pengetahuan atau epistemologi berhubungan dengan metode mengajar (Ornstein, Alan C. & Levine, Daniel U. , 1985). Pada metode mengajar yang lebih cenderung pada pengajaran tradisional tetapi juga menganut pragmatism. Bagaimanapun metode mengajar pasti ada peran guru, artinya guru sebagai organisator sehingga perannya seperti pada aliran idealis sangat diperlukan. Disisi lain demokrasi dalam pembelajaran juga perlu ditegakkan sepeti yang ada pada pragmatis. Pada langkah pembelajaran diawali dengan metode tradisional ala idealis, selanjutnya pada kegiatan inti memberikan kesempatan siswa untuk belajar otonom dan penegakkan demokrasi pendidikan serta sedikit pada aliran realis, dan kegiatan penutup dilakukan dengan ala aliran idealis.

Oleh karena anak telah diberikan potensi sejak lahir, tugas guru selanjutnya adalah menggalih potensi-potensi tersebut melalui pengalaman-pengalaman langsung yang dapat membangkitkan ide atau kreativitas serta dilatih keterampilan analisis seperti layaknya aliran filsafat analisis. Melalui kegiatan yang lebih banyak menganut realism akan memunculkan ide-ide yang nantinya dapat digunakan sebagai bekal dalam mencari jati diri siswa seperti pada aliran existensialism.

Guru tetap harus memiliki kharisma yang diperoleh dari perilaku-perilaku yang baik. Hal tersebut akan menjadikan si guru menjadi suritauladan yang baik bagi siswa yang diajar. Kepatuhan terhadap guru bukan berarti murid tidak dapat membantah, tetapi lebih pada sopan santun dan etika dalam diskusi atau dalam pembelajaran.

Aksiologi

Seperti yang kita tahu bahwa aksiologi berhubungan dengan nilai, yang diturunkan menajadi etika dan estetika. Etika dalam pendidikan menjadi penting, sehingga menurut saya etika harus didahulukan dari pada pengetahuan. Anak yang rajin akan lebih cepat mengerti dari pada anak yang malas. Karena anak rajin akan mendapat porsi belajar yang cukup lama. Begitu pula anak yang patuh, disiplin, jujur, dan penuh tanggung jawab akan lebih cepat memperoleh pengetahuan yang lebih.

Coba sekarang dibalik, anak yang memiliki moral yang tidak sopan mungkin akan banyak belajar dari akibat yang ditimbulkannya. Memang kedawasaan akan lebih cepat diperoleh oleh anak yang mencoba yang lebih ekstrim. Sebagai contoh seorang anak yang mencuri kemudian ketahuan, akan dapat pengalaman dari perlakuan kasar dari orang dewasa. Dia secara tidak langsung akan mengetahui karakter orang dewasa. Dari sinilah si anak akan cepat tumbuh dewasa. Kedewasaan yang saya maksud disini belajar dari orang dewasa. Namun kedewasaan yang dini juga akan mengakibatkan akan memperlambat perkembangan pengetahuanya ketika dewasa. Hal ini tidak baik untuk orang yang telah dewasa bukanlah bentuk belajar, tetapi lebih dikarenakan karakter yang tidak baik merupakan sifat internal dalam diri yang sudah tidak baik.

Oleh karena itu, sebagai seorang guru, sejak dini ditanamkan sikap dari pada pengetahuan. Dengan sikap yang baik akan berdampak baik ketika mereka dewasa. Untuk membuat baik seorang siswa, seorang guru harus terlebih dulu mempunyai sikap yang baik. Bukan hanya sekedar memberikan contoh, akan tetapi karena kebaikkan guru tersebut telah tertanam dari dirinya. Bukan tuntutan profesi, tapi tuntan sifat baik harus dimiliki oleh setiap orang.

 

—Wallauhua’lam Bishawab—

Daftar Putaka

Ornstein, Alan C. & Levine, Daniel U. , 1985. An Introduction to The Foundations of Education. Boston: Houghton Mifftri Company.

Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama, Semarang: Toha Putera, 1989;

Al-Zarnuji, 1986. Kitâb Ta‘lîm al-Muta‘allim Tarîqah al-Ta‘allum. In: Kairo: Maktabah al-Nahdah al.

Penulis : M. Anas Thohir

Makalah ini ditulis pada saat menjadi mahasiswa pascasarjana program s3 studi ilmu pendidikan.