Kellner, D. (2000) juga mengungkapkan bahwa “Jadi, daripada mengutuk dan menolak teknologi baru keluar dari tangan, kami harus mengkritik penyalahgunaan mereka tetapi juga melihat bagaimana mereka dapat digunakan secara konstruktif untuk tujuan positif.” Namun dalam rangka rejuvenasi (melestarikan/ muda  kembali) pedagogik sebagai the art and science of teaching and educating (seni dan ilmu pengetahuan mengajar dan mendidik) dapat dilakukan dengan revitalisasi tentang pentingnya pedagogic. Karena teknologi tidak dapat menggantikan peran guru terutama perannya dalam mendidik. Begitu juga Shulman (1986) juga telah melihat pentingnya pengetahuan pedagogik bukan hanya sebatas pengetahuan isi.

Notonagoro dalam Siswoyo, D. (2013)[1] menyebutkan bahwa upaya  rejuvenasi dalapat likukan dengen prinsisp eklektik-inkorporatif-harmonis-dinamis, yaitu pendekatan menggabungkan eklektik-inkorporatif (pengembangan dan pengayaan Filsafat Pendidikan Nasional) dari berbagai elemen filsafat pendidikan asing yang sesuai dan tidak bertentangan dengan kepribadian nasional, yang dilepaskan dari dasar Sistem Aliran atau Filsafat diperhatikan, harmoni berarti membentuk kekuatan utuh dan dinamis yang menyenangkan sekaligus berarti untuk menghasilkan gerakan yang cepat dan penuh antusias. Proses eklektik-menggabungkan harmoni dilakukan dengan peralihan-antisipatif-reflektif-peremajaan-dialektik sehingga penerapan Filsafat Pendidikan Nasional Pancasila selalu sarat dengan kreativitas baru yang akan menjawab tantangan dari waktu ke waktu.[2]

Upaya yang paling esensial adalah dengan melihat kepribadian  bangsa yang merupakan jati diri bangsa Indonesia selalu dinamis, direjuvenasi dengan tetap berpegang pada  nilai-nilai  dasar  Pancasila,  harus  selalu  diperjuangkan  aktualisasinya  dalam  kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Upaya lainnya adalah dari dosen LPTK senantiasa mensosialisasikan tentang pedagogic sebagai seni dan ilmu pengetahuan dalam mengajar dan mendidik dan Pancasila sebagai landasan pendidikan Indonesia.

Kellner, D. (2000) juga mengungkapkan bahwa “Jadi, daripada mengutuk dan menolak teknologi baru keluar dari tangan, kami harus mengkritik penyalahgunaan mereka tetapi juga melihat bagaimana mereka dapat digunakan secara konstruktif untuk tujuan positif.” Namun dalam rangka rejuvenasi (melestarikan/ muda  kembali) pedagogik sebagai the art and science of teaching and educating (seni dan ilmu pengetahuan mengajar dan mendidik) dapat dilakukan dengan revitalisasi tentang pentingnya pedagogic. Karena teknologi tidak dapat menggantikan peran guru terutama perannya dalam mendidik. Begitu juga Shulman (1986) juga telah melihat pentingnya pengetahuan pedagogik bukan hanya sebatas pengetahuan isi.

Notonagoro dalam Siswoyo, D. (2013)[1] menyebutkan bahwa upaya  rejuvenasi dalapat likukan dengen prinsisp eklektik-inkorporatif-harmonis-dinamis, yaitu pendekatan menggabungkan eklektik-inkorporatif (pengembangan dan pengayaan Filsafat Pendidikan Nasional) dari berbagai elemen filsafat pendidikan asing yang sesuai dan tidak bertentangan dengan kepribadian nasional, yang dilepaskan dari dasar Sistem Aliran atau Filsafat diperhatikan, harmoni berarti membentuk kekuatan utuh dan dinamis yang menyenangkan sekaligus berarti untuk menghasilkan gerakan yang cepat dan penuh antusias. Proses eklektik-menggabungkan harmoni dilakukan dengan peralihan-antisipatif-reflektif-peremajaan-dialektik sehingga penerapan Filsafat Pendidikan Nasional Pancasila selalu sarat dengan kreativitas baru yang akan menjawab tantangan dari waktu ke waktu.[2]

Upaya yang paling esensial adalah dengan melihat kepribadian  bangsa yang merupakan jati diri bangsa Indonesia selalu dinamis, direjuvenasi dengan tetap berpegang pada  nilai-nilai  dasar  Pancasila,  harus  selalu  diperjuangkan  aktualisasinya  dalam  kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Upaya lainnya adalah dari dosen LPTK senantiasa mensosialisasikan tentang pedagogic sebagai seni dan ilmu pengetahuan dalam mengajar dan mendidik dan Pancasila sebagai landasan pendidikan Indonesia.

[1] Siswoyo, D. (2013). Philosophy of Education in Indonesia: Theory and Thoughts of Institutionalized State (PANCASILA). Asia Social Science. Canadian Centerof Science and Education. http://dx.doi.org/10.5539/ass.v9n12p136

[2] Trifornas, P.P. (2000). Revolutionary Pedagogies Cultural Politics, Instituting Education, and the Discourse of Theory. New York: Routledge

[1] Siswoyo, D. (2013). Philosophy of Education in Indonesia: Theory and Thoughts of Institutionalized State (PANCASILA). Asia Social Science. Canadian Centerof Science and Education. http://dx.doi.org/10.5539/ass.v9n12p136