Untuk mendulang suara yang besar, seseorang akan melakukan dengan segala cara terutama lewat sosial media. Seseorang pada konteks ini bisa merupakan orang yang sedang mencalonkan diri, juru kampanye, orang yang dibayar, atau orang yang telah terpengaruh dengan konten yang disebarkan. Sosial media yang digunakan dapat berupa facebook, instagram, wathapp, twiter, Youtube, dan media elektronik lainnya. Cara-cara yang dilakukan dapat berupa mengunggulkan dalam program, menyebar kelemahan lawan, menyebarkan isu sara, kabar bohong, saling mengolok-olok, dan upaya lainnya yang membuat simpatik pada calonnya dan benci pada calon lainnya.

Cara-cara tersebut ada yang dibenarkan, tetapi juga banyak yang tidak dibenarkan. Namun masalahnya, orang-orang tersebut kadang-kadang lupa akan baik dan benar. Mereka hanya memikirkan bagaimana bisa menang, tanpa memikirkan itu bertentangan dengan norma agama, norma adat, dan hukum negara. Pemicunya adalah pembenaran atas kesalahan dengan alasan demi kelompok, demi partai, demi aliran, demi kekuasaan, demi uang dan pembenaran atas nama rakyat dan agama. Mungkin akan sulit mengcounter banjirnya konten negatif tersebut selama kita memakai media digital. Sebagai contoh, pada tahun 2017, Kemenkominfo telah merilis tiga kategori konten negarif, yaitu kebencian berbasis SARA, pornografi, dan Hoax. Dari ketiga kategori tersebut, konten hoax yang paling banyak sekitar 6.632. Bahkan kelompok Saracen memiliki lebih dari 2000 akun dalam operasi mereka dan terdapat 800.000 akun yang tergabung dalam jaringan kelompok tersebut dengan mematok harga puluhan juta rupiah dalam setiap operasi mereka.

Meskipun demikian, ada salah satu solusi penting yang dapat ditawarkan yaitu melalui pendidikan digital leterasi. Secara sederhana digital literasi dapat dipahami sebagai keterampilan teknis tentang komputer dan internet (Jones & Mitchell, 2015). Namun, digital literasi mempunyai bahsan topik yang kompleks, memiliki banyak keuntungan, merepresentasikan multi-dimensional, dan dapat digunakan mempromosikan pemahaman umum yang positif dari internet misalnya (Greene, Yu, & Copeland, 2014). Dari dua definisi tersebut dapat ditarik bahwa literasi digital merupakan upaya positif dalam menggunakan komputer dan internet, bukan sebaliknya. Labih lanjut, digital literasi dapat digunakan sebagai penangkal adanya penyelewengan digital yang mengarah pada hal yang negatif. Oleh karena itu, di dalam dunia pendidikan, sangat penting guru mengajarkan tentang digital literasi yang juga mengarah pada critical literacy.

Perlu dipahami bahwa literasi digital sekarang ini dapat dipahami sebagai penggunakaan baik itu membaca dan memproduksi suatu konten. Dalam membaca konten, kita perlu melakukan analisis secara kritis. Pelu adanya ketidak percayaan pembaca terhadap konten yang dibaca. Hal ini dilakukan untuk menghindari upaya-upaya yang berusaha mempengaruhi ke arah yang negatif seperti pada kasus politik. Maksud kritis adalah melakukan kajian logis mengenai kebenaran paling tidak secara sumber konten, konteks, tujuan, dan karya dalam pembuatannya. Adakan kebenaran dari sumber konten tersebut. Perlu melakukan penelusuran bahka pengujian tentang sumber konten. Apakah konten tersebut sesuai dengan konteks atau jangan-jangan rekontekstualisasi atau berita lama yang direproduksi kembali sehingga seakan-akan berhubungan. Selain itu, pembaca harus mengetahui tujuan dari penyebar konten tersebut apa. Dengan cara ini, pembaca akan memahami apakah itu wajar atau tidak sehingga kita dapat mengatakan oh karena dia pendukung si A atau si B, dia melakukan itu. Dalam memproduksi konten, literasi digital kritis menyarankan untuk membuat konten yang positif. Bahkan, pemproduksi diharapkan dapat menjadi pencerah terhadap konten negatif. Bukan diartikan penyerangan balik terhdap konten negatif, tetapi bagaimana nuansa keilmuan dapat berlaku. Bukankah dalam dunia akademik, ada saling koreksi terhadap kekurangan untuk perbaikan?.  Teakhir, perlu kedewasaan dalam membaca dan memproduksi konten karena literasi media memungkinkan kita untuk melihat bagaimana budaya media menciptakan perbedaan, hirarki, dan representasi negatif atau positif dari kelompok yang berbeda, dan bagaimana hal itu merupakan semacam pedagogi budaya (Kellner, 2000).

Wassalam

Sumber:

Greene, J. A., Yu, S. B., & Copeland, D. Z. (2014). Measuring Critical Components of Digital Literacy and their Relationships with Learning. Computers & Education. http://doi.org/10.1016/j.compedu.2014.03.008

Jones, L. M., & Mitchell, K. J. (2015). Defining and measuring youth digital citizenship. http://doi.org/10.1177/1461444815577797

Kellner, (2000). Multiple Literacies and Critical Pedagogies New Paradigms. Revolutionary Pedagogies Cultural politic, Instuting edication, and the Discourse of Theory. London: France & Taylor Routledge.