oleh M. Anas Thohir

Ada yang mengatakan bahwa usaha dalam kehidupan sehari-hari dengan dalam fisika itu berbeda, kata siapa? Meskipun definisi usaha dalam fisika dengan usaha dalam kehidupan sehari-hari berbeda, namun keduanya ada titik benang merahnya.

Dalam fisika usaha membutuhkan gaya (dorongan), sedangkan dalam kehidupan sehari-hari untuk melakukan usaha dibutuhkan dorongan dalam hati. Dorongan dalam hati sering dihubungkan dengan niat,

seperti yang disabdakan Nabi Muhammad SAW.

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Amal perbuatan itu tergantung pada niatnya… (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits

Selain membutuhkan gaya (dalam fisika), sebuah usaha takkan dapat sebut usaha jika tidak ada perpindahan. Dalam kehidupan sehari-hari perpindahan ini adalah realisasi dari niat. Meski niat yang baik sudah dicatat sebagai amal kebaikan, tetapi perwujudan niat yang baik akan lebih baik. Niat baik tanpa perwujudan sama dengan berencanakan kebaikan tetapi tanpa realisasi. Dalam islam Ahlusunnah Waljama’ah setelah usaha kemudian tawakal. Berdasarkan firman Allah SWT :

…إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ…

..Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri (Q.S. Ar Raad: 79)

Untuk mewujudkan menjadi siswa yang pintar, tentu harus ada niat untuk menjadi anak yang pintar dan diimbangi dengan belajar. Disamping itu bentuk dari usaha adalah do’a. Dengan do’a, Allah akan membantu setiap usaha yang akan kita niatkan tersebut. Setelah kita telah berusaha kemudian tawakal.

Dari Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Dengan nama Allah. Aku bertawakal kepada-Nya, dan tiada daya dan kekuatan, kecuali karena pertolongan Allah.”

Nah inilah kunci sukses : Usaha, do’a kemudian tawakal.