Category: Filsafat

Antara boss-management dan Leader-management : Tinjauan Pendidikan

Gleseer W. (1992)[1] menuliskan bahwa guru mencoba meninggalkan  sistem  lama “boss-menaging”,  yang  kurang  efektif  untuk  memanage  siswa. Guru bertugas untuk memanage siswa secara langsung, sedangkan guru dimanage  oleh administrator. Hanya melalui “lead-management”, guru dapat membuat ruang kelas di mana semua  siswa  tidak  hanya  melakukan  pekerjaan  yang  kompeten  tetapi  mulai melakukan  pekerjaan  yang  berkualitas,  kelas  yang  seperti  itu  adalah  inti  dari  sebuah sekolah yang berkualitas. Sebagai menager, guru seharusnya bersedia mengeluarkan berbagai usaha untuk memberikan pekerjaan yang tidak membosankan karena  ia  tahu  bahwa  hampir  tidak  mungkin  bagi  pekerja  untuk  bosan  melakukan pekerjaan  yang  berkualitas  tinggi. Guru yang efektif mengelola siswa...

Read More

Peran pedagogi dalam menyeimbangkan budaya asli dan asing

Informasi yang diakses di media masa telah membawa pada berbagai budaya baru pada generasi Indonesia. Banyak kehawatiran akan demoralisasi terhadap pengaruh budaya asing. Namun, budaya asing tidak sepenuhnya harus ditinggalkan, karena itu sebagai generasi penerus bangsa, perlu menjaga kelestarian bangsa tetapi juga tidak ketinggalan dengan berbagai modernitas. Ki Hajar Dewantara pernah menyatakan bahwa usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya, dan persatuan bangsa, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing, yang dapat memperkembang dan memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia. Peran pedagogik  dapat menjadi penyeimbang antara hal yang baru dan yang lama. Pendapat konservasi bahwa kita hidup harus memegang erat budaya leleuhur. Manusia akan benar-benar menjadi manusia kalau ia hidup dalam budayanya sendiri. Manusia yang seutuhnya antara lain dimengerti sebagai manusia itu sendiri ditambah dengan budaya masyarakat yang melingkupinya[1]. Adapun moderisme atau juga pragmatisme yang mengidolakan teori evolusi[2] (Ornstein, Alan C. & Levine, Daniel U. , 1985), lebih pada pandangan survival sekarang dan menolak fondasi lama seperti idealis, realis dan parenialis. Pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang (menurut Ki Hajar Dewantara menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif)). Singkatnya, “educate the head, the heart, and the hand”. Hyman, dkk (1979)[3] dalam bukunya yang berjudul “Education’s Lasting Influence on Values” menjelaskan hasil  survei  dari tahun...

Read More

Pancasila di zaman informasi yang kontruktif sekaligus destruktif:

Informasi, Komuniakasi dan Teknologi (ICT) memang tidak bisa kita lepaskan dari zaman informasi sekarang ini. Meskipun sebagian orang mengatakan bahwa ICT dapat merusak tatanan nilai, namun disisi lain teknologi telah membawa percepatan informasi, akselerasi mutu, dan alat untuk memudahkan komunikasi. Bagaimanapun teknologi telah merubah cara kita berpikir, cara untuk melakukan sesuatu, dan cara menggunakan waktu luang.  Kellner, D. (2000) mengungkapkan bahwa “Jadi, daripada mengutuk dan menolak teknologi baru supaya tidak digunakan, lebih baik mengkritik dalam penyalahgunaan mereka dan juga melihat bagaimana teknologi baru dapat digunakan secara konstruktif untuk tujuan positif.” Baru-baru ini isu tentang kelompok anti Pancasila berkembang dimasyarakat...

Read More

Peran Pedagogik dalam Menghadapi Isu Kemajuan Adab, Budaya, dan Persatuan Bangsa

Peran pedagogik  dapat menjadi penyeimbang antara hal yang baru dan yang lama. Pendapat konservasi bahwa kita hidup harus memegang erat budaya leleuhur. Manusia akan benar-benar menjadi manusia kalau ia hidup dalam budayanya sendiri. Manusia yang seutuhnya antara lain dimengerti sebagai manusia itu sendiri ditambah dengan budaya masyarakat yang melingkupinya[1]. Adapun moderisme atau juga pragmatisme yang mengidolakan teori evolusi[2] (Ornstein, Alan C. & Levine, Daniel U. , 1985), lebih pada pandangan survival sekarang dan menolak fondasi lama seperti idealis, realis dan parenialis. Pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang (menurut Ki Hajar Dewantara menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif)). Singkatnya, “educate the head, the heart, and the hand”. Hyman, dkk (1979)[3] dalam bukunya yang berjudul “Education’s Lasting Influence on Values” menjelaskan hasil  survei  dari tahun 1950 sampai 1975 terhadap 45.000 orang dewasa kulit putih berusia 25 sampai 72 tahun tentang efek jangka panjang dari pendidikan. Data menunjukkan bahwa pendidikan menghasilkan efek baik dan bersifat abadi dalam ranah nilai. Buku ini juga berkomentar mengenai persejajaran antara penelitian ini dan sebuah studi sebelumnya berjudul “The Enduring Effects of Education” yang menyajikan bahwa peran pedagogic terhadap pengetahuan dan nilai begitu kua. Hal ini  dapat diartikan bahwa peran pedagogic sangat besar dalam menanamkan nilai-nilai adab, budaya, dan persatuan di samping pengetahuan. Sebagai contoh adalah terjadinya percepatnya...

Read More

Personal Philosophy in Education

Oleh : M. Anas Thohir , Pendahuluan Sebelum menguraikan sedikit coretan saya, tentang filosofi pribadi saya dalam pendidikan. Saya ingin mengungkapkan pendapat saya ilmu. Saya mengangap bahwa ilmu itu datangnya dari Allah SWT baik langsung atau melalui perantara (tawasul) dari apapun atau siapapun (qodo’) dan ilmu akan diberikan kepada orang yang bersungguh-sungguh dalam belajar (qodar). Kerana itu Allah berfirman قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا Katakanlah (wahai Muhammad), “Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Rabbku habis (ditulis), meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). [al-Kahfi/18:109] Jadi saya lebih menganut As’ariyah dari pada condong ke jabariyah (eksrim kanan) ataupun ke qodariayah (ekstrim kiri).  Ada nasihat dari guru saya tentang mendidik yang mengandung unsur qodo’ dan qodar. “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang Penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah.”( Nasehat KH. Maimun Zubair).    Metafisika Pada filsafat pendidikan, metafisika berhubungan dengan konsep realitas yang dapat ditinjau dari subjek, pengalaman, dan keterampilan pada kurikulum (Ornstein, Alan C. & Levine, Daniel U. , 1985).  Menurut saya subjek kebenaran memang apa yang dapat kita indra dan kita pikirkan...

Read More