PETA KONSEP

Efek Rumah Kaca Dan Emisi Karbon

KD :

3.12. Menganalisis gejala pemanasan global dan dampaknya bagi kehidupan serta lingkungan

IPK:

·        Menjelaskan  pemanasan global bagi kehidupan dan lingkungan

·        Menjelaskan zat-zat yang terkandung akibat pemanasan global

·        Menjelaskan dampak pemanasan global bagi kehidupan serta lingkungan

·        Mengidentifikasikan gejala pemanasan global dan dampaknya bagi kehidupan dan lingkungan

  1. Pengertian Pemanasan Global 

    pemanasan global

Pemanasan global (Global Warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan temperatur global – termasuk Indonesia – yang terjadi pada kisaran 1,5 – 40 oC pada akhir abad 21. Pemanasan global menimbulkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan bio-geofisik (seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna tertentu, migrasi fauna dan hama penyakit, dan sebagainya). (Anonim, 2007). Banyak orang termasuk para ahli yang mensinyalir atau menuding bahwa penyebab kenaikan temperatrur bumi adalah aktivitas-aktivitas manusia yang memicu dan mendorong timbulnya gas efek rumah kaca. Berbagai aktivitas manusia yang memicu peningkatan gas efek rumah kaca antara lain kegiatan industri, pembabatan hutan secara terus-menerus, kendaraan bermotor, kegiatan peternakan dan rumah tangga. Pemicu atau penyumbang gas efek rumah tangga yang dominan adalah kegiatan industri (dan pabrik-pabrik), kendaraan bermotor, dan perambahan hutan yang berlangsung secara terus-menerus. ( Hanapiah Muhi Ali, Pemanasan Global.pdf).

 

 

  1. Efek rumah kaca dan zat-zat yang menyebabkan efek rumah kaca

 

Efek rumah kaca diusulkan oleh joseph fourier pada tahun 1824, ditemukan pada tahun 1860 oleh  Jhon Tyndall dan pertama kali diselidiki secara kuantitatif oleh Svante Arrhenius Guy pada tahun 1896, serta diselidiki lebih lanjut pada tahun 1930 sampai dengan 1960 oleh tewart Callander.

Berdasarkan urutan panjang gelombang, radiasi sinar matahari dibagi menjadi 3 yaitu Infra Merah (IM), cahaya tampak dan ultra violet (UV). Efek rumah kaca terjadi penyaringan, penyerapan dan pemantulan. Hanya setengah dari radiasi sinar matahari yang diserap oleh permukaan bumi. Bebatuan, tanah, dan air menyerap energi radiasi yang sampai kepadanya, sehingga daratan menjadi hangat. Batu, tanah dan ai berfungsi sebagai sumber kalor yang lebih dingin dari matahari, pada gilirannya material dingin ini akan memancarkan kembali energi yang diserap menuju ke atmosfer dalma bentuk radiasi IM sesuai dengan beberapa frekuensi alami getaran-getaran molekul-moleku gas rumah kaca. Gas rumah kaca dalam atmosfer dapat memancarkan radiasi IM mereka sendiri ke segala arah.

Sejumlah radiasi yang dipancarkan diserap oleh molekul-molekul lain dalam atmosfer, sebagian kecil di pancarkan ke angkasa, dan sejumlah radiasi lainnya dipancarkan kembali ke permukaan bumi. Disebu efek rumah kaca (greenhouse effect) karena pemancaran kembali radiasi IM yang dihasilkan permukaan bumi oleh atmosfer menuju kepermukaan bumi kembali untuk menghangatkan bumi . namun, semakin banyak molekul karbon dioksida dan uap air yang terlibat dalam dalam proses dinamis ini semakin banyak pula radiasi IM yang diarahkan kembali kepermukaan bumi, sebagai akibatnya suhu dipermukaan bumi semakin meningkat lebih besar.  Kelompok gas yang menjaga bumi tetap hangat secara alamiah isebut “gas rumah kaca” , yang termasuk gas rumah kaca adalah uap air dan karbon dioksida. Gas merumah kaca paling banyak meningkat karena ulah manusia adalah metana, nitrogen oksida, dan freon.

Intergovernmental panel on climate change (IPCC) menyimpulkan bahwa sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia. Penegasan kesimpulan ini dikemukakan pada tahun 2013. IPCC menyatakan bahwa pendorong terbesar dari pemanasan global adalah karbondioksida.

 

  1. Perubahan iklim dan gejala Pemanasan Global bagi Kehidupan dan Lingkungan Sekitar

 

 

  1. Terjadi perubahan iklim baik lingkungan hidpu maupun ligkungan sekitar:

 

a.       Iklim mulai tidak stabil

Daerah bagian utara dari belahan bumi Utara akan memanas lebih tinggi dibanding daerah-daerah lain dibumi. Akibatnya gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan berkurang, suhu pada musim dingin dan malam hari akan cenderung meningkat, dan daerah hangat akan menjadi lembap karena lebih banyak air yang menguap dari laut.

b.      Peningkatan permukaan laut

Pemanasan global juga akan mencairkan lempengan es dikutub,terutama disekitar Greenland, sehingga semakin memperbesar volume air laut. 10-25 cm selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi akan terjadi peningkatan lebih lanjut 9-88 cm pada abad ke-21.

c.       Pertanian

Bagian selatan kanada mungkin lebih diuntungkan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering dari beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat ditanami. Kenaikan suhu global sebesar 4derajat menyebabkan penurun produksi jagung 5 persen akibat kekeringan ini.

d.      Kehidupan hewan liar dan tumbuhan

Hewan cenderung akan berimigrasi ke arah kutub atau ke pegunungan untuk mencari wilayah yang lebih dingin. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi lebih hangat.

e.       Kesehatan manusia

Kenaikan pemanasan global memicu banyaknya penyakit yang berkaiatan dengan panas dan kematian, seperti stress, stroek, dan gangguan kardiovaskular. Demam berdarah dan malaria juga mengalami perluasan wilayah lokasi serangan dan durasi penularan penyebabnya adalah peningkatan suhu, memungkinkan perkembangan patogen didaerah tersebut.

 

  1. Gejala pemanasan global bagi kehidupan dan lingkungan sekitar

 

a.       Kebaakaran hutan besar-besaran, Kebakaran yang semakin meluas ini diakibatkan suhu yang semakin panas dan salju daerah utara meleleh lebih cepat.

b.      Satelit bergerak lebih cepat, emisi karbon dioksida membuat planet cepat panas, dan berimbas ke ruang angkasa. Lebih banyak nya karbondioksida mengakibtkan dorongan atmosfer lebih banyak dan mengakibatkan satelit bergerak lebih cepat.

c.       Mekarnya tumbuhan dikutub utara, tanaman yang dulunya terperangkap oleh es pada daerah kutub, namun kini tidak lagi dan mulai tumbuh.

d.      Keganjilan di daerah kutub, hialangnya 125 danau dikutub utara beberapa dekade silam memunculkan gagasan bahwa pemanasan global meningkat sangat pesat pada daerah kutub.

Gejala Pemanasan Global

Dampak Pemanasan Global

Gambar Dampak Pemanasan Global

Kompetensi Dasar 33.12. Menganalisis gejala pemanasan global dan dampaknya bagi kehidupan serta lingkungan

 

Indikator Pencapaian Kompetensi:

3.12

a.       Mengenali gejala pemanasan global dan dampaknya bagi kehidupan serta lingkungan

b.      Menjelaskan bagaimana dampak gejala pemanasan global dalam kehidupan sehari-hari

c.       Mengaplikasikan dampak pemanasan global bagi kehidupan sehari-hari serta lingkungan dengan mengurangi kertas

Tujuan Pembelajaran:

3.12

a.       Diberikan gejala pemanasan global, siswa dapat menjelaskan gejala pemanasan global dan dampaknya bagi kehidupan serta lingkungan

b.      Siswa dapat menjelaskan bagaimana dampak gejala pemanasan global dalam kehidupan sehari-hari

c.       Mengaplikasikan dampak pemanasan global bagi kehidupan sehari-hari serta lingkungan dengan mengurangi kertas

Peta Konsep

Peta Konsep

Materi

Pemanasan global telah memicu terjadinya sejumlah konsekuensi yang merugikan baik terhadap lingkungan maupun setiap aspek kehidupan manusia. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

1.     Mencairnya lapisan es di kutub Utara dan Selatan. Peristiwa ini mengakibatkan naiknya permukaan air laut secara global, hal ini dapat mengakibatkan sejumlah pulau-pulau kecil tenggelam. Kehidupan masyarakat yang hidup di daerah pesisir terancam. Permukiman penduduk dilanda banjir rob akibat air pasang yang tinggi, dan ini berakibat kerusakan fasilitas sosial dan ekonomi. Jika ini terjadi terus menerus maka akibatnya dapat mengancam sendi kehidupan masyarakat.

2.     Meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim. Perubahan iklim menyebabkan musim sulit diprediksi. Petani tidak dapat memprediksi perkiraan musim tanam akibat musim yang juga tidak menentu. Akibat musim tanam yang sulit diprediksi dan musim penghujan yang tidak menentu maka musim produksi panen juga demikian. Hal ini berdampak pada masalah penyediaan pangan bagi penduduk, kelaparan, lapangan kerja bahkan menimbulkan kriminal akibat tekanan tuntutan hidup.

3.     Punahnya berbagai jenis fauna. Flora dan fauna memiliki batas toleransi terhadap suhu, kelembaban, kadar air dan sumber makanan. Kenaikan suhu global menyebabkan terganggunya siklus air, kelembaban udara dan berdampak pada pertumbuhan tumbuhan sehingga menghambat laju produktivitas primer. Kondisi ini pun memberikan pengaruh habitat dan kehidupan fauna.

4.     Habitat hewan berubah akibat perubahan faktor-faktor suhu, kelembaban dan produktivitas primer sehingga sejumlah hewan melakukan migrasi untuk menemukan habitat baru yang sesuai. Migrasi burung akan berubah disebabkan perubahan musim, arah dan kecepatan angin, arus laut (yang membawa nutrien dan migrasi ikan).

5.     Peningkatan muka air laut, air pasang dan musim hujan yang tidak menentu menyebabkan meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir.

6.     Ketinggian gunung-gunung tinggi berkurang akibat mencairnya es pada puncaknya.

7.     Perubahan tekanan udara, suhu, kecepatan dan arah angin menyebabkan terjadinya perubahan arus laut. Hal ini dapat berpegaruh pada migrasi ikan, sehingga memberi dampak pada hasil perikanan tangkap.

8.     Berubahnya habitat memungkinkan terjadinya perubahan terhadap resistensi kehidupan larva dan masa pertumbuhan organisme tertentu, kondisi ini tidak menutup kemungkinan adanya pertumbuhan dan resistensi organisme penyebab penyakit tropis. Jenis-jenis larva yang berubah resistensinya terhadap perubahan musim dapat meningkatkan penyebaran organisme ini lebih luas. Ini menimbulkan wabah penyakit yang dianggap baru.

9.     Mengancam kerusakan terumbu karang di kawasan segitiga terumbu karang yang ada di enam negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Kepulauan Salomon, Papua Nugini, Timor Leste, dan Philipina. Dikhawatirkan merusak kehidupan masyarakat lokal yang berada di sekitarnya. Masyarakat lokal yang pertama kali menjadi korban akibat kerusakan terumbu karang ini. Untuk menyelamatkan kerusakan terumbu karang akibat pemanasan global ini, maka para aktivis lingkungan dari enam negara tersebut telah merancang protokol adaptasi penyelamatan terumbu karang. Lebih dari 50 persen spesies terumbu karang dunia hidup berada di kawasan segitiga ini. Berdasarkan data Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sebanyak 30 persen terumbu karang dunia telah mati akibat badai el nino pada 1998 lalu. Diprediksi, pada 10 tahun ke depan akan kembali terjadi kerusakan sebanyak 30 persen.

 

Sumber : Ramli Utina. PEMANASAN GLOBAL: Dampak dan Upaya Meminimalisasinya.

Aktivitas Manusia Yang Dapat Menyebabkan Pemanasan Global

Aktivitas manusia yang dapat menyebabkan pemanasan global

1.      Penggunaan Kendaraan bermotor

Pengguna Kendaraan Bermotor saat Asian Game

Kendaraan bermotor memiliki dampak yang sangat besar dalam pemanasan global. Hal tersebut karena bahan bakar yang digunakan pada kendaraan bermotor ialah bahan bakar fosil. Dalam pembakaran yang terjadi pada mesin kendaraan bermotor akan menghasilkan salah satunya ialah gas karbondioksida (CO2). Gas karbondioksida merupakan salah satu gas penyebab efek rumah kaca.

2.      Efek rumah kaca

Proses terjadinya rumah kaca

Efek rumah kaca merupakan suatu proses atmosfer memanaskan sebuah planet. Efek rumah kaca terjadi karena panas yang dipantulkan oleh permukaan bumi yang seharusnya dilepas lagi ke bagian luar angkasa tidak dapat terlepas karena terperangkap oleh gas-gas yang berada di atmosfer. Sehingga panas tersebut dipantulkan kembali ke permukaan bumi. Efek rumah kaca ini sebenarnya bermanfaat bagi kehidupan makhluk hidup di bumi. Akan tetapi jika terlalu berlebihan maka akan merubah iklim dan cuaca di bumi. Tidak hanya itu, dampak lain yang ditimbulkan dari efek rumah kaca ini ialah semakin lama bumi akan semakin panas.

3.      Penebangan hutan secara liar

Penebangan hutan secara liar

Hutan merupakan suatu kawasan yang ditumbuhi pepohonan yang lebat. Dengan adanya pepohonan yang lebat maka fungsi hutan ialah sebagai penyerap karbondioksida (CO2). Saat tumbuhan berfotosintesis akan menyerap CO2 dan akan menghasilkan oksigen dari proses fotosintesis tersebut. Jika banyak pohon yang ditebang dan tidak ditanam kembali maka berkuranglah penyerak karbondioksida. Hal tersebut akan berdampak pada banyaknya gas karbondioksida di atmosfer dan menyebabkan efek rumah kaca.

4.      Polusi metana oleh pertanian, perkebunan, dan peternakan

Polusi metana yang disebabkan oleh peternakan sapi

Gas metana merupakan salah satu gas yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas metana mampu menangkap panas 20 kali lebih banyak bila dibandingkan karbondioksida. Gas metana berasal dari bahan-bahan organik yang kekurangan oksigen dari hasil pemecahan bakteri. Contohnya hewan ternak akan meningkatkan pula produksi kotoran hewan ternak tersebut. Gas metana pada hewan ternak keluar banyak jika hewan ternak populasinya naik.

5.      Pembakaran sampah secara berlebihan

Pembakaran sampah liar

Proses pembakaran akan menghasilkan karbondioksida. Jika pembakaran sampah tesebut dilakukan secara berlebihan maka karbondioksida yang dihasilkan dari proses pembakaran tesebut juga akan meningkat. Karbondioksida merupakan salah satu gas efek rumah kaca. Dengan bertambahnya gas karbondioksida pada atmosfer maka semakin memperburuk pemanasan global.

6.      Polusi udara dari industri

polusi udara disebabkan industri serta kendaraan bermotor

Gas buang dari industry diantaranya ialah gas metana, gas karbondioksida dan zat lain dapat memperparah dari efek rumah kaca. Semakin lama gas yang ditimbulkan akibat proses industry akan berkumpul di atomosfer bumi dan akan memperparah terjadinya efek rumah kaca.

Upaya Manusia Mengatasi Pemanasan Global

1. Mengurangi Penggunaan Bahan Bakar Fosil

Pembakaran bahan bakar fosil (seperti premium dan solar) menghasilkan gas karbon dioksida sebagai gas buangan. Seandainya alat transportasi yang berbahan bakar minyak marak digunakan dan jumlahnya semakin bertambah, maka karbon dioksida yang dibuang ke atmosfer juga semakin besar. Akibatnya pemanasan global yang terjadi akan semakin buruk. Oleh sebab itu alat transportasi yang berbahan bakar minyak sebaiknya diminimalisir pemakaiannya. Kurangi penggunaan kendaraan pribadi dan gunakanlah alat transportasi umum sehingga dapat mengurangi gas karbon dioksida di udara.

Cara lain mengurangi penggunaan bahan bakar fosil adalah dengan menggunakan alat transportasi yang tidak menghasilkan karbon dioksida sebagai gas buangan nya misalnya dengan menggunakan sepeda, mobil berbahan bakar hidrogen atau akan lebih baik lagi jika kita biasakan jalan kaki untuk berpergian pada jarak yang dekat.

 

2. Menggunakan Energi Alternatif

Cara mengatasi pemanasan global yang kedua adalah dengan beralih ke Energi Alternatif. Manusia sejatinya dapat menggunakan energi alternatif guna meminimalisir hal – hal yang dapat menjadi penyebab pemanasan global. Penggunaan energi alternatif terbarukan ini hendaknya harus segera di terapkan di seluruh dunia. Pembangkit listrik berbahan bakar fosil harus segera diganti dengan energi bersih, seperti sinar matahari, angin, air, panas bumi dan biomassa. Sumber energi tersebut sejatinya berlimpah namun belum bisa dimanfaatkan secara maksimal.

 

3. Tidak Menebang Pohon di Hutan Secara Sembarangan

Seperti yang sudah kita ketahui, pohon merupakan tumbuhan yang dapat menyerap gas CO2 dan menghasilkan oksigen. Dengan mengurangi dampak penebangan hutan secara ilegal kita juga berperan dalam menjaga kelestarian hutan yang saat ini banyak mengalami kerusakan.

Hutan merupakan elemen yang sangat penting bagi kelestarian dunia, karena salah satu fungsi hutan adalah sebagai paru-paru dunia sekaligus penyeimbang ekosistem. Hutan terutama jenis hutan yang belum terjamah manusia memiliki keseimbangan ekosistem yang sangat baik sehingga banyak hewan dan tumbuhan yang hidup dan bertahan dari pengaruh lingkungan luar.

 

4. Melakukan Penanaman Pohon Kembali (reboisasi)

Pohon dan jenis tumbuhan berklorofil lainnya mempunyai peran vital dalam membersihkan udara. Sebab tumbuhan berklorofil mempunyai kemampuan untuk mengolah air, sinar matahari, karbon dioksida dan unsur hara menjadi bahan organik dan oksigen.

Oksigen sendiri merupakan salah satu faktor penentu kehidupan seluruh makhluk hidup di bumi. Karena itulah keberadaannya sangat dibutuhkan. Tanpa adanya oksigen, manusia dan makhluk hidup lain tidak dapat bernapas. Karena itulah semakin banyak pohon yang ditanam di bumi, maka semakin banyak udara yang dapat dibersihkan dari berbagai macam polutan.

 

5. Melakukan Penghematan Listrik

Cara Mengatasi Pemanasan Global berikutnya adalah dengan melakukan penghematan listrik. Listrik merupakan salah satu bentuk energi yang banyak dibutuhkan manusia. Meskipun tidak semua manusia menggunakan listrik, namun listrik merupakan energi yang berperan vital dalam budaya hidup modern. Akantetapi listrik dari pembangkit listrik saat ini kebanyakan menggunakan bahan bakar fosil yang menghasilkan karbon dioksida. Semakin banyak penggunaan listrik, maka semakin banyak gas buangan berupa karbon dioksida sehingga efek rumah kaca bisa semakin memburuk.

Oleh karena itu menjadi sangat penting bagi kita untuk melakukan penghematan listrik salah satu caranya adalah dengan Cabut Kabel/Peralatan Dari Saklar Saat Tidak Digunakan dan mengemat Pemakaian Lampu.

 

6. Tidak Menggunakan Alat Yang Menghasilkan Gas CFC

CFC (Cloro Four Carbon) merupakan senyawa-senyawa yang mengandung atom karbon dengan klorin dan fluorin terikat padanya. CFC umumnya dihasilkan oleh peralatan pendingin udara, perlu diketahui bahwa saat ini CFC menyumbangkan 20% dalam proses terjadinya efek rumah kaca. Oleh karenanya penggunaan CFC harus dihentikan meskipun penggunaan CFC memang bermanfaat untuk manusia, namun perlu diperhatikan juga dampak dari penggunaan CFC ini.

Dalam mengatasi suhu ruangan yang panas, kita dapat merancangsebuah bangunan yang mempunyai banyak ventilasi udara sehingga tidak perlu memakai pendingin ruangan atau AC. namun seandainya penggunaan AC memang diperlukan pastikan kita memakai AC non CFC yang ramah lingkungan. Begitu juga dengan kulkas, sebaiknya kita memakai kulkas non CFC untuk menghindari efek rumah kaca serta agar pemanasan global agar tidak semakin memburuk dan merugikan manusia.

 

7. Memperbaiki Kualitas Kendaraan dengan Uji Emisi

Semakin banyaknya kendaraan bermotor yang berlalu lalang mengakibatkan meningkatnya emisi gas buang sebagai residunya. Seperti yang telah diketahui, emisi gas buang merupakan sisa hasil pembakaran mesin kendaraan baik itu kendaraan beroda, perahu maupun pesawat terbang.

Memperketan standar dan pengawasan dalam uji emisi sangat diperlukan untuk memastikan kondisi kendaraan apakah sudah prima atau belum. Kendaraan yang memiliki kondisi prima akan menghasilkan pembakaran yang lebuh sempurna sehingga tidak terlalu merusak lingkungan.

 

8. Menerapkan Sistem Budidaya Peternakan dan Pertanian yang baik

Sistem budidaya pertanian yang memakai bahan kimia sintetik berupa pupuk dan pestisida dapat mengakibatkan pencemaran dan kerusakan pada lingkungan. Karena itulah sistem pertanian organik yang tidak mencemari dan merusak lingkungan harus segera digalakkan di seluruh dunia. Akantetapi penggunaan bahan organik yang tidak tepat ternyata juga dapat berdampak buruk pada lingkungan. Penggunaan pupuk organik berupa kotoran hewan yang belum matang justrus turut berperan dalam terjadinya efek rumah kaca. Hal tersebut terjadi karena kotoran hewan yang belum matang merupakan sumber gas metana yang tidak lain adalah salah satu penyebab terjadinya efek rumah kaca.

Sehingga kita harus memastikan bahwa pupuk kandang yang kita gunakan merupakan pupuk kandang yang sudah matang yaitu pupuk kandang yang sudah mengalami proses dekomposisi. Pupuk kandang matang biasanya mempunyai warna yang lebih gelap dibanding pupuk kandang segar dan juga sudah tidak memiliki (sedikit) bau tidak sedapnya, tidak seperti pupuk kandang yang masih segar. Pemakaian pupuk kandang yang benar dapat mengurangi gas metana yang dilepas ke atmosfer bumi.

 

9. Melakukan Reduce, Reuse dan Recycle

Reduce, yaitu melakukan penghematan dan mengurangi sampah. Misalnya hemat dalam pemakaian tissue dan kertas karena tissue dan kertas terbuat dari kayu yang harus ditebang dari pohon di hutan. Atau bisa juga membeli produk yang berlabel ramah lingkungan serta meminimalisir pemakaian produk yang dikemas styrofoam / plastik. Dan berhenti menggunakan semprotan aerosol untuk mengurangi CFC yang dapat merusak lapisan Ozon bumi.

Reuse, merupakan cara pemanfaatan sampah atau memanfaatkan kembali barang yang sudah tidak terpakai atau penggunaan barang – barang yang sudah tidak digunakan, jadi barang tersebut dimanfaatkan kembali untuk pemakaian kedua dan seterusnya. Misalnya seperti menggunakan kertas bekas untuk kertas corat-coret atau catatan keperluan sehari hari atau menggunakan sapu tangan yang bisa digunakan kembali dibanding menggunakan kertas tissue yang hanya sekali pakai.

Recycle, yaitu mendaur ulang barang yang sudah tidak bisa digunakan menjadi barang yang lebih memberikan manfaat. Contohnya dengan cara memisahkan barang yang berbahan organik dan an-organik kemudian barang yang bukan organik seperti botol plastik bisa dikreasikan menjadi pot tanaman atau kotak pensil dan barang yang berbahan organik bisa dimanfaatkan menjadi pupuk kompos.

 

10. Kurangi Penggunaan Kertas

Pemakaian kertas yang berlebihan merupakan salah satu penyebab besar yang mempengaruhi pemanasan global sebab dengan kita memakai banyak kertas berarti kita turut menghilangkan (menebang) banyak pohon. Karena kertas berasal dari kayu. Sehingga, konsumsi kertas yang tinggi menuntut penebangan pohon yang semakin banyak. Ini alasan mendetail mengapa kita harus meminimalisir konsumsi kertas sebisa mungkin, demi kelestarian lingkungan. Oleh karena itu mulailah dari sekarang untuk mengurangi penggunaan kertas misalnya gunakan kertas se-efisien mungkin.

IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change)

IPCC ( Intergovermental Panel on Climate Change)

Kompetensi dasar : 4.12 mengajukan ide/gagasan penyelesaian masalah gejala pemanasan global dan dampaknya bagi kehidupan serta lingkungan

Indikator Pencapaian Kompetensi :

1.      Menjelaskan sejarah dari IPCC

2.      Menyebutkan hasil kesepakatan global IPCC

Tujuan Pembelajaran :

1. Siswa mampu menjelaskan sejarah dari IPCC

2. Siswa mampu menyebutkan hasil kesepakatan global IPCC

logo IPCC

Gambar 1. Logo IPCC

IPCC ( Intergovermental Panel on Climate Change) merupakan sebuah panel antar-pemerintah yang terdiri dari ilmuwan serta ahli dari berbagai bidang ilmu yang berkaitan dengan perubahan iklim seluruh dunia. IPCC memiliki tugas menyediakan data-data ilmiah yang transparan, menyeluruh, dan tidak berpihak tentang informasi teknis, sosial serta ekonomi yang berkaitan dengan perubahan iklim. Dalam website IPCC juga memuat data mengenai penyebab perubahan iklim, dampak yang ditimbulkan dari perubahan iklim dan dalam hal cara penanganan dari dampak yang ditimbulkan. Kantor IPPC berserikat di Jenewa (Swiss). IPCC dalam satu tahun mengadakan rapat pleno sebanyak satu kali dan membahas tentang tiga hal utama yaitu :

1.      Informasi ilmiah mengenai perubahan iklim

2.      Dampak, adaptasi sera kerentanan

3.      Upaya penanganan perubahan iklim

Pada tahun 1990 IPCC menerbitkan hasil penelitian pertama yaitu perubahan iklim merupakan ancaman bagi kehidupan manusia. Selain itu, IPCC juga menyerukan pentingnya kesepakatan global untuk mengurangi dampak dari perubahan iklim yang dapat dirasakan oleh seluruh dunia. Majelis umum PBB mnejawab seruan dari IPCC ldengan membentuk badan negoisasi antar pemerintah yaitu Intergovernmental Negotiating Committee (INC). INC merundingkan masalah tentang perubahan iklim.

Laporan IPCC terakhir tahun 2007 secara garis besar terdiri dari :

·         Laporan kelompok kerja 1 dikelurakan pada Februari 2007, menekankan bahwa manusia adalah penyebab utama peningkatan gas rumah kaca ( GRK) di lapisan udara.

·         Laporan kelompok kerja 2 mengenai dampak dan adaptasi perubahan iklim dikeluarkan awal April 2007, membeberkan perkiraan ancaman bencana di banyak negara apabila tidak dilakukan upaya segera untuk mengurangi kegiatan yang dapat menyebabkan pemanasan global.

·         Laporan kelompok kerja 3 yg dikeluarkan  Mei 2007 menganalisis proses pengurangan emisi karbon yang sudah dan harus dilakukan, dan strategi adaptasi untuk bertahan terhadap dampak perubahan iklim yang tidak bisa dihindari.

suhu bumi meningkat setiap tahunnya

Gambar 2. suhu rata-rata di permukaan bumi

Pemanasan global merupakan peningkatakan suhu udara di permukaan bumi serta di lautan yang dimulai sejak abad ke 20 dan akan terus mengalami peningkatan. Adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi merupakan dampak langsung dari pemanasan global.  Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia” melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut. Bahkan yang menjadi masalah, negara-negara maju yang seharusnya menjadi pelopor dalam mengatasi pemanasan global malah menjadi sumber utama pemanasan itu. Hal ini berkaitan erat dengan proses industri yang menjadi penyebab utama pemanasan global.

Jika ditinjau dari pemanasan global, sistem di bumi dapat dikelompokkan menjadi dua daerah,yaitu daerah produksi panas dan daerah penetral panas. Daerah utama pemroduksi panas adalah negara-negara besar dan matang. Jadi cukup sulit untuk mendesak mereka menghentikan aktivitas, terutama industri, yang menjadi penghasil panas bumi berlebih. Daerah produksi panas ini pemasok karbon dioksida tertinggi. Sebab aktivitas industri berupa pembakaran bahan bakar fosil, yaitu minyak bumi, batu bara, dan gas bumi menghasilkan jumlah karbon dioksida di atmosfer dalam jumlah banyak. Pembakaran bahan-bahan tersebut menambahkan 18,35 miliar ton karbon dioksida ke atmosfer tiap tahun. Sementara dari konsumsi energi dunia saat ini (tidak termasuk kayu bakar), sedikit di bawah 40% adalah minyak bumi, 27% batu bara, dan 22% gas bumi, sedangkan  listrik tenaga air dan nuklir merupakan 11% sisanya. Selain merupakan bahan bakar fosil yang menghasilkan pencemaran paling tinggi, batu bara juga menghasilkan karbon dioksida terbanyak per satuan energi.

Konsumsi total bahan bakar fosil di dunia meningkat sebesar 1 persen per-tahun. Langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan.Kerusakan yang parah dapat di atasi dengan berbagai cara. Daerah pantai dapat dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Cara lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya, mengosongkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara.

Pemanasan yang terjadi pada sistem iklim bumi merupakan hal yang jelas terasa, seiring dengan banyaknya bukti dari pengamatan kenaikan temperatur udara dan laut, pencairan salju dan es di berbagai tempat di dunia, dan naiknya permukaan laut global. (“Climate Change 2007”, Intergovernmental Panel on Climate Change).

PBB, melalui program lingkungan PBB (United Nations Environment Programme) dan Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization, WMO) membentuk The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada 1988 untuk meneliti dan menganalisa isu-isu ilmu pengetahuan yang muncul. Sejak 1990 setiap lima atau enam tahun IPCC telah mengeluarkan laporan-laporan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan melalui pengamatan dan prediksi untuk mengetahui kecenderungannya di masa depan.

IPCC tidak melakukan penelitian baru, tetapi tugas IPCC adalah untuk membuat rancangan kebijakan yang sesuai dengan isu-isu dan literatur di seluruh dunia tentang aspek ilmu pengetahuan, teknik dan sosioekonomi dari perubahan iklim. Laporan-laporan IPCC disusun oleh ribuan ahli dari seluruh bagian di dunia. Laporan penelitian ke empat (The Fourth Assessment Report) dikeluarkan pada 2007, dalam empat bagian yang masing-masing bagiannya disusun oleh kelompok kerja yang berbeda-beda.

Dalam menyiapkan laporan, konsep naskahnya diedarkan kepada ahli-ahli dengan bidang keahlian yang berbeda-beda. Komentar dari para ahli tersebut lalu akan ditampung oleh penulis di IPCC yang kemudian menyiapkan tinjauan kedua bagi pemerintah-pemerintah dunia dan kepada semua penulis serta peninjau ahli. Pemerintah-pemerintah dan para peninjau ahli dapat memberikan masukan namun terbatas pada keakuratan dan kelengkapan kandungan dari ilmu pengetahuan/teknis/sosioeknomi dan keseimbangan dari keseluruhan konsep naskah laporan. Dokumen akhir merupakan gabungan dari pandangan banyak pihak baik dari segi ilmu pengetahuan maupun teknisnya.

Setiap laporan memiliki ikhtisar untuk pembuat kebijakan, yang disetujui oleh delegasi pemerintahan negara-negara anggota IPCC pada saat sidang paripurna kelompok kerja yang menyusun laporan tersebut. Penulis utama laporan akan hadir dan siap untuk menjelaskan fakta-fakta ilmiah yang mendukung pernyataan pada ikhtisar. Perubahan hanya dapat dilakukan jika ada persetujuan dengan penulis utama, untuk memastikan kekonsistenan dengan aspek ilmu pengetahuan serta teknisnya. Ikhtisar juga menunjukkan adanya persetujuan untuk isi/penemuan pada laporan : Pernyataan dari pemerintah peserta bahwa terdapat cukup bukti-bukti ilmiah dari seluruh dunia untuk mendukung pernyataan pada dokumen laporan.

IPCC menemukan bahwa, selama 100 tahun terakhir (1906-2005) temperatur permukaan bumi rata-rata telah naik sekitar 0.74oC, dengan pemanasan yang lebih besar pada daratan dibandingkan lautan. Tingkat pemanasan rata-rata selama 50 tahun terakhir hampir dua kali lipat dari yang terjadi pada 100 tahun terakhir. Akhir tahun 1990an dan awal abad 21 merupakan tahun-tahun terpanas sejak adanya arsip data modern. Peningkatan pemanasan sebesar 0.2oC diproyeksikan akan terjadi untuk setiap dekade pada dua dekade kedepan. Proyeksi tersebut dilakukan dengan beberapa skenario yang tidak memasukkan pengurangan emisi gas rumah kaca. Besar pemanasan yang akan terjadi setelahnya akan tergantung kepada jumlah gas rumah kaca yang diemisikan ke atmosfer.

Jika konsentrasi gas rumah kaca dominan di atmosfer, karbondioksida, bertambah hingga dua kali lipat dibandingkan konsntrasinya pada masa pra-industri maka pemanasan rata-rata akan meningkat mencapai 2-4.5oC (3.6-8.1oF). Gas rumah kaca lainnya turut pula berperan dalam pemanasan tersebut dan menurut beberapa skenario, kombinasi dampak dari gas-gas ini akan menjadi dua kali lipat pada paruh kedua abad ini. Konsentrasi karbondioksida di atmosfer saat ini, menurut pengukuran pada udara yang terperangkap pada inti es, jauh lebih besar dibandingkan dengan 650.000 tahun terakhir.

Seven Mile Bridge di Florida juga akan tenggelam akibat kenaikan permukaan air laut.

Gambar 3. Seven Mile Bridge di Florida juga akan tenggelam akibat kenaikan permukaan air laut.

Salah satu dampak yang paling besar dari pemanasan global adalah naiknya permukaan laut. Permukaan laut naik sekitar 17 cm selama abad 20.

Pengamatan geologi mengindikasikan bahwa kenaikan muka laut ini jauh lebih besar dibandingkan yang terjadi pada 2000 tahun yang lalu. Pada daerah dengan iklim sedang, banyak gunung-gunung gletser yang mencair, dan tutupan salju semakin berkurang, terutama pada musim semi. Selama abad 20, luasan maksimum daerah yang tertutup salju pada musim dingin/semi telah berkurang sekitar 7% pada Belahan Bumi Utara. Kemudian waktu yang dibutuhkan untuk pembekuan sungai dan danau pun cukup bervariasi, tetapi sejak 150 tahun terakhir telah semakin lambat menjadi 5.8 hari per abad dan mencair lebih cepat 6.5 hari per abad.

  

Dikutip Dari :

Hanapiah Muhi Ali, Pemanasan Global.pdf

https://devisofiah23.blogspot.com/2014/12gejala-penyebab-dan-dampak-pemanasan.html?m=

Kanginan Marthen. 2013. FISIKA untuk SMA/SMK Kelas XI. Penerbit:Erlangga