Pendidikan sekarang ini diindentikkan dengan industri. Hal ini terbukti dengan ramainya jargon pendidikan industri 4.0. Mungkin ramainya itu karena ikut-ikut an atau memang mereka telah memahami apa itu pendidikan dengan pola industri 4.0.

Pada hal, industri sendiri mengadopsi cara-cara yang dilakukan mesin yang dinyakini selalu berkembang. Cara mesin dalam memproduksi ini kemudian diberi label dengan angka angka. Sampai sekarang industri sudah sampai pada urutan yang ke 4 atau 4.0. Pada industri 1.0 atau revolusi industri, mesin pertama kali ditemukan dengan bahan bakar uap. Kemudian pada industri 2.0, mesin mulai digerakkan dengan listrik. Adapun pada 3.0, mesin mulai digerakkan dengan komputer. Terakhir, pada saat ini, industri 4.0 lebih pada mesin digerakkan secara otomatis dan internet. Oleh karena itu, teori internet dan otomatisasi menjadi melambung. Sebagai contoh, internet of things (IoT), big data, artifisial intelejensi (AI), dan

Hal ini sama seperti teori sistem sekolah natural atau formal bahwa paham ini menyamakan proses pendidikan dengan proses yang ada di pabrik atau mesin, yaitu input, proses, dan output atau dari barang jadi menjadi barang setengah jadi menjadi bahan jadi. Tentu saja teori semacam ini menuai kritik tajam terutama oleh orang-orang teori sistem natural. Mereka tidak setuju dengan menyamakan manusia dengan mesin karena mesin tidak seperti manusia dan manusia bukanlah mesin. Mereka mengkritik dimensi kemanusiaan yang tidak ada di sistem pendidikan formal. Oleh itu, lahirlah sistem pendidikan terbuka.

Sistem terbuka mengkolaborasikan antara sistem formal dan sistem natural. Teori ini menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya proses seperti mesin, tetapi juga menegaskan sisi kemanusiaan. Pendidikan perlu mengakomodir, sisi psikologi, sisi sosial. Dalam teori pula, pendidikan selain ada proses input, proses, dan output, juga mengadopsi sisi learning and teaching, individual, dan struktural.

Melihat pada trend tersebut, pendidikan di industri 4.0 bukan berarti mesin-mesin internet menggantikan peran-peran guru, sekolah diganti mesin google, dan buku diganti tablet. Meskipun ini dapat terjadi secara teori struktural atau formal, akan tetapi sisi-sisi kemanusiaan tidak akan tergantikan dengan mesin. Bagaimana manusia mempunyai perasaan, keinginan, kreativitas, problem solving, dan kolaborasi.