Tag: Pendidikan

Indikator Standar bagi Guru dari International Society for Technology in Education Tahun 2017

Standar International Society for Technology in Education (ISTE) untuk guru adalah peta jalan Anda untuk membantu siswa menjadi peserta didik yang diberdayakan. Standar ini akan memperdalam praktik Anda, mempromosikan kolaborasi dengan rekan kerja, menantang Anda untuk memikirkan kembali pendekatan tradisional dan mempersiapkan siswa untuk mendorong pembelajaran mereka sendiri. Terhubunglah dengan pendidik lain di Komunitas Standar ISTE dan pelajari bagaimana menggunakan standar di kelas dengan ebook ISTE Standards for Students. Tercatat dalam website ISTE (iste.org) bahwa terdapat tujuh standar, antara lain sebagai pebelajar (learner), pemimpin (leader), warga negara (citizen), colaborator, designer, fasilitator, dan analis. Dari masing-masing standar diuraikan sebagai berikut...

Read More

Antara boss-management dan Leader-management : Tinjauan Pendidikan

Gleseer W. (1992)[1] menuliskan bahwa guru mencoba meninggalkan  sistem  lama “boss-menaging”,  yang  kurang  efektif  untuk  memanage  siswa. Guru bertugas untuk memanage siswa secara langsung, sedangkan guru dimanage  oleh administrator. Hanya melalui “lead-management”, guru dapat membuat ruang kelas di mana semua  siswa  tidak  hanya  melakukan  pekerjaan  yang  kompeten  tetapi  mulai melakukan  pekerjaan  yang  berkualitas,  kelas  yang  seperti  itu  adalah  inti  dari  sebuah sekolah yang berkualitas. Sebagai menager, guru seharusnya bersedia mengeluarkan berbagai usaha untuk memberikan pekerjaan yang tidak membosankan karena  ia  tahu  bahwa  hampir  tidak  mungkin  bagi  pekerja  untuk  bosan  melakukan pekerjaan  yang  berkualitas  tinggi. Guru yang efektif mengelola siswa...

Read More

Penjajahan Belanda, Inggris, dan Perancis serta Pengaruhnya terhadap Pendidikan di Indonesia

Negara Indonesia dijajah pemerintah Belanda cukup lama sekitar 3,5 abad. Tentu saja penjajahan Belanda yang lama tersebut memberikan dampak yang lebih besar terhadap pendidikan dari pada penjajah Inggris dan Prancis yang cuma sebentar. Meskipun demikian, yang namanya penjajahan tetap memberikan sejarah buruk bagi perkembangan peradaban selanjutnya. Belanda menerapkan upah yang kecil bagi pribumi bahkan tidak dibayar. Akibatnya rakyat pribumi mengalami kemiskinan dan kelaparan. Dengan kemiskinan ini rakyat pribumi menjadi sulit dalam memperoleh pangan dan pendidikan. Kebodohan dibiarkan oleh Belanda karena Belanda takut atas pemberontakan pribumi. Selain itu politik adu domba (devide  it  impera) membuat fragmentasi dalam ras, kasta, serta strata. Belanda yang merupakan penjajah yang eksploratif menjadikan pribumi hanya dijadika sebagai sumber bahan mentah bagi pemerintah Belanda. Belanda menjadikan pribumi sebagai pekerja kasar melalui sistem tanam paksa. Bahan-bahan mentah di bawah ke belanda. Setelah kekalahan dengan Perancis dan Inggris, Belanda lewat C.Th. van Deventer merasa sangat tidak adil, bila Belanda hanya mengeksploitasi alam. Belanda merasa bersalah atas eksploitasi alam ini, sehingga oleh van Deventer mengagas politis balas budi. Politik etis ini kemudian dikenal dengan trilogi van Deventer. Trilogi van Deventer mencakup tiga politik yaitu migrasi, irigasi, dan pendidikan. Dalam politik pendidikan ini, Belanda tidak menerapkan demokrasi di dalam pendidikan. Setiap orang tidak mendapatkan kesempatan yang sama. Belanda mendekotomi antara golongan bawah, golongan menengah, dan golongan atas. Golongan bawah diperuntukkan rakyat jelata, pendidikan menengah diperuntukkan golongan bangsa Eropa dan bangsa...

Read More

Pendidikan di Indonesia pada zaman Belanda bersifat rasial dan berwatak kelas, benarkah demikian?

Sistem pemerintahan penjajah Belanda di Jawa adalah sistem yang direc (langsung) maupun dualistik. Langsung artinya Belanda secara langsung memberikan perintah dan memposisikan diri sebagai pemerintah. Sedangkan dualistik, berarti melewati pihak kedua terutama dari kelas priyai. Oleh karena itu, bersamaan dengan hirarki Belanda, ada hirarki pribumi yang berfungsi sebagai perantara antara petani Jawa dan layanan sipil Eropa. Bagian atas struktur hirarki pribumi ini terdiri dari para aristokrasi Jawa dan priyayi ini terpaksa melaksanakan kehendak Belanda. Pembagian ini juga diberlakukan dalam pendidikan. Belanda mendekotomi antara golongan bawah, golongan menengah, dan golongan atas. Golongan bawah diperuntukkan rakyat jelata, pendidikan menengah diperuntukkan golongan bangsa Eropa dan bangsa Timur seperti China, dan golongan atas yang disederajatkan dengan Belanda.Namun Kesempatan untuk mengenyam pendidikan untuk orang pribumi hanya diperuntukkan kelas priyai atau orang yang memiliki kemampuan secara ekonomi seperti tuan tanah atau anak pejabat. Sistem  “Oester  LagerOnderwijs”  (OLO) membuktikan adanya kelas dalam pendidikan pada era penjajahan Belanda,  jenis-jenis  sekolahnya  secara  berturut-turut  sebagai berikut: Pada permulaan  tahun  1850  didirikan  sekolah  kelas  I  yang  lamanya  5  tahun  dan diperuntukkan  bagi  anak-anak  dari  lingkungan  pangreh  praja  dan  ditempatkan  di  kota-kota kerisidenan. Mata pelajaran; membaca, menulis, berhitung, Pada akhir abad XIX didirikan sekolah kelas II yang lamanya 4 tahun dan ditempatkan di kota-kota kabupaten. Pelajarannya berkisar sekitar membaca, menulis, bahasa daerah dan bahasa pengantarnya yaitu bahasa daerah. Pada tahun  1875  pemerintah  Belanda  mendirikan  sekolah  pamong  praja  dan  yang diterima menjadi...

Read More

Urgensi Pendidikan Multikultural

a) mengatasi kegagalan belajar di sekolah dari siswa dengan aneka ragam budaya Ada dua alasan mengapa pendidikan multikultural memperngaruhi sukses atau gagalnya belajar siswa yang mempunyai keragaman budaya. Salah satu alasannya adalah bahwa pendidikan multikultural umumnya mengabaikan tanggung jawab siswa minoritas atas prestasi akademis mereka. Model pendidikan multikultural dan program aktual menyampaikan kesan bahwa mendidik siswa minoritas adalah sebuah proses dimana guru dan sekolah harus berubah demi keuntungan siswa. Mereka harus memperoleh pengetahuan tentang budaya minoritas dan bahasa untuk mengajar anak-anak minoritas, mempromosikan pemahaman lintas budaya, memperkuat identitas etnis, dan sebagainya. Pendidikan multikultural pada umumnya menekankan perubahan sikap dan praktik guru. Namun, studi perbandingan situasi akan menunjukkan bahwa kesuksesan sekolah tidak hanya bergantung pada apa yang dilakukan oleh guru dan guru, tetapi juga pada apa yang dilakukan siswa[1]. Kedua, teori dan program pendidikan multikultural jarang didasarkan pada studi aktual budaya dan bahasa minoritas. Sepengetahuan kami, banyak pendukung model pendidikan multikultural belum mempelajari budaya minoritas di komunitas minoritas, walaupun beberapa telah mempelajari anak-anak minoritas di sekolah dan beberapa di antaranya adalah anggota kelompok minoritas. Namun, keanggotaan dalam kelompok minoritas bukanlah dasar yang memadai untuk berteori tentang pengaruh budaya terhadap pembelajaran[2]. Perlu dibentuk kelompok-kelompok peneliti dengan harapan adanya barometer yang akan digunakan dalam kepentingan guru atau sekolah dalam hal keberagaman. Dalam skala besar, pemerintah dapat mengundang peneliti untuk dapat melakukan reset dengan tujuan dapat mengklasterkan budaya dan keragaman untuk kepentingan umum,...

Read More