Belanda dan Sistem Kelas Pendidikan di Indonesia

Oleh M. Anas Thohir Sistem pemerintahan penjajah Belanda di Jawa adalah sistem yang direc (langsung) maupun dualistik. Bersamaan dengan hirarki Belanda, ada hirarki pribumi yang berfungsi sebagai perantara antara petani Jawa dan layanan sipil Eropa. Bagian atas struktur hirarki pribumi ini terdiri dari para aristokrasi Jawa dan priyayi ini terpaksa melaksanakan kehendak Belanda. Pembagian ini juga diberlakukan dalam pendidikan. Belanda mendekotomi antara golongan bawah, golongan menengah, dan golongan atas. Golongan bawah diperuntukkan rakyat jelata, pendidikan menengah diperuntukkan golongan bangsa Eropa dan bangsa Timur seperti China, dan golongan atas yang disederajatkan dengan Belanda.Namun Kesempatan untuk mengenyam pendidikan untuk orang pribumi hanya diperuntukkan kelas priyai atau orang yang memiliki kemampuan secara ekonomi seperti tuan tanah atau anak pejabat. Sistem  “Oester  LagerOnderwijs”  (OLO) membuktikan adanya kelas dalam pendidikan pada era penjajahan Belanda, Pada awal  tahun  1850  berdiri  sekolah  kelas  I  yang  lamanya  5  tahun  diperuntukkan kalangan priyai dan tuan tanah. Abad XIX beridiri sekolah kelas II yang lamanya 4 tahun, sekolah tersebut hanya terjangkaou di di karisedenan. Pada tahun  1875  pemerintah  Belanda  mendirikan  sekolah  pamong  praja  sebagai lanjutan dari sekolah kelas I. Maka pada tahun 1903, pendidikan dan pengajaran bagi rakyat umum atau rakyat jelata diperluas, dengan memperbanyak  sekolah  kelas  II  secara  perlahan-lahan.  Kemudian diadakan sekolah dasar yang lamanya 3 tahun (kelas I, II, III). Guru-guru untuk Volkschool mendapat didikan pada Cursus voor volksondrwijs (CVO) yang lamanya 2 tahun. Pada tahun  1907 ...

Read More